PENDAHULUAN
Latar Belakang
Salah satu penghambat di dalam usaha peningkatan produksi
pangan adalah faktor hama (Sastrapradja
et al. 1980). Hama adalah makhluk hidup yang mengurangi
kualitas dan kuantitas beberapa sumber daya manusia yang berupa tanaman atau
binatang yang dipelihara yang hasil dan seratnya dapat diambil untuk
kepentingan manusia. Hama adalah organisme yang
dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Hama
adalah semua organisme atau agens biotik yang merusak tanaman
dengan cara yang bertentangan dengan kepentingan manusia (Endah & Novizan, 2002).
Padi hingga kini masih merupakan bahan pangan
pokok yang penting bagi rakyat
Indonesia. Kebutuhan akan beras semakin meningkat setiap tahunnya seiring
dengan pertambahan penduduk. Menurut Balai Proteksi Tanaman Pangan Dan
Hortikultura (2012) peningkatan produksi padi terakhir menunjukkan laju
kenaikan yang melandai (leveling off)
sedangkan tingkat penambahan penduduk saat ini masih tinggi.
Penurunan produksi padi tidak lepas
dari adanya cekaman lingkungan berupa hama dan penyakit. Kerugian yang
ditimbulkan oleh hama pada padi diperkirakan berkisar antara 19 – 24 % tiap
tahunnya. Luas tanaman padi
tahun 2013 di Kalimantan Selatan adalah 525.304 ha. Untuk penyebaran luas tanam per kabupaten
yakni luas tanam tertinggi terdapat di kabupaten Barito Kuala seluas 99.471 ha
disusul kabupaten Banjar seluas 74.365 ha, kemudian kabupaten Tapin seluas 60.365
ha.. Luas serangan organisme
pengganggu tanaman (OPT) di Kalimantan Selatan pada tahun 2013 seluas 1.971,3
ha diantaranya puso seluas 231,2 ha.
Hama utama padi menyerang berbagai fase kehidupan tanaman yaitu pada
fase persemaian, fase vegetative,
fase generatif dan fase pemasakan. Hama pada fase persemaian yaitu wereng
coklat, wereng hijau, hama
putih palsu, keong mas dan tikus sawah. Sedang hama pada fase vegetative penggerek batang , wereng hijau,
hama ganjur dan keong mas. Pada fase generatif biasanya wereng coklat, wereng hijau, penggerek batang, walang sangit,
hama ganjur, ulat grayak, hama putih
palsu, tikus sawah dan keong mas. Dan pada fase pemasakan, hama yang sering
dijumpai adalah walang sangit,
tikus sawah dan burung.
Mengingat jenis hama yang banyak, ada gunannya untuk mengenal jenis hama
– hama padi
Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui jenis,
bentuk/morfologi serta biologi hama – hama khususnya hama padi dengan cara
mengidentifikasi hama – hama tersebut.
TINJAUAN PUSTAKA
Penggerek Batang
Padi
Di
Indonesia telah di temukan 6 jenis penggerek batang padi yang terdiri dari
penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas (Walker), penggerek
batang padi putih Scirpophaga innotata (Walker), penggerek batang padi
bergaris Chilo suppressalis (Walker), penggerek batang padi kepala hitam
Chilo polychrysus Meyrick, penggerek batang padi berkilat Chilo
auricilius Dudgeon (kelima spesies tersebut termasuk ordo Lepidoptera dan
famili Pyralidae), dan penggerek batang padi merah jambu Sesamia inferens (Walker)
(spesies ini termasuk ordo Lepidoptera dan famili Noctuidae). Dari enam spesies
tersebut hanya empat spesies yang banyak ditemukan sebagai hama utama padi
yaitu penggerek batang padi kuning, penggerek batang padi putih, penggerek
batang padi bergaris, dan penggerek batang padi merah jambu. Penggerek batang
padi kepala hitam dan penggerek batang padi berkilat jarang ditemukan karena
populasinya rendah.
Setiap spesies penggerek batang padi
memiliki sifat atau ciri yang berbeda dalam penyebaran dan bioekologi, namun
hampir sama dalam cara menyerang atau menggerek tanaman padi serta kerusakan
yang ditimbulkannya.
1. Penggerek Batang Padi Kuning Scirpophaga
incertulas (Walker)
Ngengat
atau imago
Spesies
ini ditandakan dengan sayap ngengat yang berwarna kuning dengan titik hitam
pada sayap depan. Panjang ngengat jantan 14 mm dan betina 17 mm, dapat hidup
antara 5-10 hari. Siklus hidup 39-58 hari, tergantung pada lingkungan dan
makanan. Jangkauan terbang dapat mencapai 6-10 km.
Telur
Ngengat
meletakkan telur secara berkelompok dan diletakkan pada daun bagian ujung.
Jumlah telur 50-150 butir/kelompok. Kelompok telur ditutupi rambut halus
berwarna coklat kekuningan yang diletakkan antara pukul 19.00-22.00 selama 3-5
malam sejak malam pertama. Keperidian 100-600 butir tiap betina. Stadium telur
6-7 hari.
Larva
Larva
berwarna putih kekuningan sampai kehijauan, dengan panjang maksimum 25 mm.
Larva terdiri dari 5-7 instar, lama stadium larva 28-35 hari. Karena larva
bersifat kanibal sehingga hanya ada seekor larva yang hidup dalam satu tunas.
Larva yang menetas keluar melalui 2-3 lubang yang dibuat pada bagian bawah
telur menembus permukaan daun. Larva yang baru muncul biasanya menuju bagian
ujung daun dan menggantung dengan benang halus atau membuat tabung kecil,
terayun oleh angin dan jatuh kebagian tanaman lain atau permukaan air. Larva
kemudian bergerak ke tanaman melalui celah antara pelepah dan batang. Selama
hidupnya larva dapat berpindah dari satu tunas ke tunas lainnya. Larva instar akhir
menuju pangkal batang untuk berubah menjadi pupa. sebelum menjadi pupa, larva
membuat lubang keluat pada pangkal batang dekat permukaan air atau tanah yang
ditutupi embran tipis untuk jalan keluar setelah imago.
Pupa
Pupa
berwarna kekuning-kuningan atau agak putih, dengan kokon berupa selaput benang
berwarna putih. Panjang 12-15 mm dan stadium pupa 6-23 hari. Pupa berada di
dalam pangkal batang.

Gambar 1. Stadia penggerek batang padi kuning S.
incertulas: (A)-ngengat atau imago; (B)-kelompok telur; (C)-larva; (D)-pupa
Karakteristik
penggerek batang padi kuning
Tanaman inang utama adalah padi dan
tanaman padi liar. Penyebarannya luas dari daerah tropis sampai subtropis.
Perubahan kepadatan populasi penggerek batang padi kuning di lapangan sangat
dipengaruhi oleh keadaan iklim (curah hujan, suhu, kelembaban), varietas padi
yang ditanam, dan musuh alami yaitu parasitoid, predator, dan patogen.
2. Penggerek Batang Padi Putih Scirpophaga
innotata (Walker)
Ngengat
atau imago
Sayap
ngengat berwarna putih dengan ukuran betina 13 mm dan jantan 11 mm.
Telur
Telur
diletakkan berkelompok pada permukaan atas daun atau pelepah. Bentuk kelompok
telur sama dengan kelompok telur penggerek batang padi kuning. Kelompok telur
di tutupi rambut halus berwarna coklat kekuning-kuningan. Satu kelompok telur
terdiri dari 170-260 butir dan lama stadium telur 4-9 hari.
Larva
Bentuk
larva mirip larva penggerek batang padi kuning dengan panjang maksimal 21 mm
dan berwarna putih kekuningan. Stadium larva 19-31 hari kecuali untuk larva
yang berdiapause. Pada akhir musim kemarau, larva instar akhir tidak langsung
menjadi pupa, tetapi mengalami diapauses dalam pangkal batang atau tunggul. Hal
ini biasanya terjadi di daerah tropis yang memiliki perbedaan musim hujan dan
kemarau yang jelas lamanya diapause tergantung pada lamanya musim kemarau.
Setelah turun hujan dan tanah lembab, larva yang berdiapause akan menjadi pupa.

Gambar 2. Stadia penggerek batang padi Putih Scirpophaga innotata
(A)-ngengat atau imago; (B)-kelompok telur; (C)-larva; (D)-pupa
Pupa
Lama
stadium pupa 6-12 hari. Pupa yang berasal dari larva yang berdiapause akan
menjadi ngengat secara bersamaan atau serentak. Dengan demikian generasi
penggerek batang padi putih pada awal musim hujan seragam
Karakteristik
penggerek batang padi putih
Tanaman
inang adalah padi dan padi liar. Dinamika populasi penggerek batang padi putih
sangat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan terutama curah hujan atau
ketersediaan air (irigasi) dan musuh alami.
3. Penggerek Batang Padi Bergaris Chilo
suppressalis (Walker)
Ngengat
atau imago
Ngengat
bisa hidup sampai satu minggu dan aktif mulai senja. Kepala ngengat berwarna
coklat muda dan warna sayap depan coklat tua dengan venasi sayap yang jelas. Panjang
ngengat 13 mm.
Telur
Seekor
betina bisa bertelur 100-550 butir dalam kelompok, yang terdiri dari 60-70
telur/kelompok selama 3-5 malam. Telur diletakkan pada pangkal daun atau
kadang-kadang pada pelepah. Telur berwarna putih dan tidak dtutupi rambut dengan
lama stadium telur 4-7 hari
Larva
Setelah
menetas larva masuk kedalam pelepah daun dan kemudian masuk kedalam batang. Larva
berwarna abu-abu, kepala berwarna coklat dengan garis coklat sejajar tubuhnya. Panjang
maksimal 26 mm. Stadium larva 33 hari. Beberapa ekor larva bisa hidup pada satu
buku dari satu tunas. Perubahan kepadatan populasi penggerek batang padi
bergaris tergantung pada temperature dan ketersediaan makanan. Satu siklus
hidup bisa mencapai enam generasi/tahun.
Pupa
Larva
instar akhir berpupa di dalam batang. Warna pupa coklat tua dengan stadium pupa
6 hari .
Gambar 3. Stadia penggerek batang padi bergaris C. suppressalis:
(A)-ngengat atau imago; (B)-kelompok telur; (C)-larva; (D)-pupa
Karakteristik
penggerek batang padi bergaris
Tanaman
inang penggerek batang padi bergaris terutama adalah padi, padi liar, jagung,
dan beberapa jenis rumput. Penyebaran lebih luas bisa mencapai 40 0
lintang utara.
4. Penggerek Batang Padi Merah Jambu Sesamia
inferens (Walker)
Ngengat
atau imago
Ngengat
berwarna coklat, sayap depan bergaris coklat tua memanjang dan sayap belakang
putih. Panjang ngengat 4-17 mm. Kurang tertarik cahaya.
Telur
Telur
diletakkan diantara pelepah daun batang padi mirip manik-manik dalam 2 –3 baris
per kelompok. Kelompok telur tidak tertutup sisik. Satu kelompok bisa terdiri
dari 30-100 butir dengan masa stadium telur 6 hari.
Larva
Larva
berwarna merah jambu dengan panjang maksimal 35 mm. Stadium larva 28-56 hari.
Beberapa ekor larva bisa hidup pada satu buku dari satu tunas.
Pupa
Pupa
berwarna coklat tua dengan panjang 18 mm. Pupa terdapat dalam pelepah atau
dalam batang dan stadium pupa 8-11 hari. Total siklus hidup 46-83 hari.

Gambar
4. Stadia penggerek batang padi merah jambu sesamia inferens (walker) (A)-ngengat atau imago; (B)-kelompok
telur; (C)-larva; (D)-pupa
Karakteristik
penggerek batang padi merah jambu:
Penyebarannya
luas dan bersifat polifag. Dapat hidup dari tumbuhan famili Graminae dan
Cyperaceae. Penggerek batang padi merah jambu lebih beradaptasi pada lingkungan
darat karena tanaman inang yang beragam, namun terdapat juga di lingkungan
sawah dan air dalam.
Wereng Coklat (Nilaparvata lugens Stal)
Wereng
coklat merupakan hama tanaman padi yang paling berbahaya dibandingkan dengan
hama lainnya. Hal itu disebabkan wereng coklat mempunyai sifat plastis, yaitu
mudah beradaptasi pada keadaan atau kondisi lingkungan baru.
Disamping itu wereng coklat juga merupakan
vector (penular) virus penyakit kerdil rumput (grassy stunt) dan kerdil hampa
(ragged stunt). Di Indonesia Wereng Coklat tersebar luas hampir di seluruh
kepulauan, kecuali di daerah Maluku dan Papua.
1.
Klasifikasi
Kingdom
: Animalia
Kelas :
Insecta
Ordo :
Homoptera
Sub Ordo :
Auchenorrhyncha
Famili :
Delphacidae
Genus :
Nilaparvata
Species :
Nilaparvata lugens Stal
2.
Biologi dan Morfologi
Dewasa / Imago
Wereng
coklat (Nilaparvata lugens Stal)
adalah serangga penghisap cairan tanaman yang berwarna kecoklatan. Panjang
tubuh 2 - 4,4 mm. Serangga dewasa mempunyai 2 bentuk, yaitu bersayap pendek (brakhiptera) dan bersayap panjang
(makroptera). Serangga
makroptera mempunyai kemampuan
untuk terbang, sehingga dapat bermigrasi cukup jauh. Wereng coklat adalah
serangga monofag, inangnya terbatas pada padi dan padi liar (Oryza parennis dan Oryza spontanea).
Telur
Wereng
Coklat berkembang biak secara seksual, siklus hidupnya relatif pendek. Masa peneluran
3-4 hari untuk wereng bersayap pendek (brakhiptera) dan 3-8 hari untuk bersayap
panjang (makroptera).
Tingkat perkembangan wereng betina dapat dibagi ke dalam masa peneluran 2-8
hari, masa bertelur 9-23 hari. Masa peneluran dapat berlangsung dari beberapa
jam sampai 3 hari. Sedangkan masa pra-dewasa adalah 19-23 hari. Telur
diletakkan berkelompok dalam pangkal pelepah daun, tetapi bila populasi tinggi
telur diletakkan pada ujung pelepah daun dan tulang daun. Jumlah telur yang
diletakkan serangga dewasa sangat beragam, dalam satu kelompok antara 3-21
butir. Seekor wereng betina selama hidupnya menghasilkan telur antara 270-902
butir yang terdiri atas 76-142 kelompok. Telur menetas antara 7-11 hari dengan
rata-rata 9 hari.
Nimfa
Metamorfosis
wereng coklat sederhana atau bertingkat (hetero-metabola). Serangga muda yang
menetas dari telur disebut nimfa, makanannya sama dengan induknya. Nimfa
mengalami pergantian kulit (instar), rata-rata untuk menyelesaikan stadium
nimfa adalah 12,8 hari. Lamanya waktu untuk menyelesaikan stadium nimfa
beragam.

Gambar 5. Siklus
hidup wereng coklat

Telur
Nimfa
Gambar
6. Telur dan nimfa wereng coklat
Nimfa
dapat berkembang menjadi dua bentuk wereng dewasa. Bentuk pertama adalah
bersayap panjang (makroptera) dengan sayap belakang normal, bentuk kedua adalah
bersayap kerdil (brakhiptera) dengan sayap belakang tidak normal. Umumnya
wereng brakhiptera bertubuh lebih besar, mempunyai tungkai dan peletak telur
lebih panjang. Kemunculan makroptera lebih banyak pada tanaman tua daripada
tanaman muda, dan lebih banyak pada tanaman setengah rusak daripada tanaman
sehat.

Makroptera Brakhiptera
Gambar 7. Wereng Coklat Bersayap (Makroptera)
dan Tanpa Sayap (Brakhiptera).
Wereng
Hijau (Nephotettix
virescens
Distant)
1. Klasifikasi
Menurut
Kalshoven (1981), wereng hijau (Nephotettix virescens Distant)
termasuk ke dalam :
Kingdom :
Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Homoptera
Famili : Cicadellidae
Genus : Nephotettix
Spesies
: Nephotettix virescens Distant

Gambar 8.Wereng Hijau dan Gejala Serangannya
2.
Biologi dan Morfologi
Telur
Telur wereng hijau berbentuk bulat memanjang dan agak meruncing pada kedua
ujungnya.Telur yang baru diletakkan berwarna bening, kemudian menjadi putih
kekuning-kuningan. Pada umur 2 atau 3 hari dua bintik merah mulai tampak pada
salah satu ujungnya.Bintik tersebut lebih nyata pada umur yang lebih tua dan
ini merupakan mata facet embrio (Fachruddin, 1980).
Masa
inkubasi telur antara 6 – 10 hari. Perkembangan 29º - 35ºC, dengan masa
inkubasi 6,3 - 7,3 hari. Pada suhu yang lebih rendah masa inkubasi bertambah
lama.Sebagian besar telur menetas diwaktu pagi antara pukul 06.00 sampai 12.00,
namun pada suhu rendah (20ºC) waktu penetasan telur tersebar dari pagi sampai
sore hati (Gallagher, 1991).
Nimfa
Nimfa
N. virescens terdiri atas 5 instar yang berlangsung keseluruhannya selama 13-18
hari. Nimfa muda berwarna putih kekuningan.Setelah berganti kulit warnanya
menjadi kuning atau hijau kekuningan hingga hijau terang. Setiap kali akan
berganti kulit nimfa tidak aktif dan tetap pada tempatnya. Nimfa dari telur
yang menetas akan segera bergerak menuju ke bagian atas tanaman dan berkumpul
pada bagian bawah daun tua. Pada instar ke-2 dan seterusnya nimfa-nimfa
tersebut merata pada daun padi. Pada tanaman yang layu nimfa berkumpul pada
bagian pangkal pelepah daun (Hibino, 1987).

Gambar
9. Siklus Hidup Wereng Hijau
Imago
Wereng
hijau yang baru menjadi dewasa berwarna kekuning-kuningan.Warna tersebut secara
bertahap berubah menjadi hijau kekuning-kuningan yang akhirnya berubah menjadi
hijau dalam waktu ± 3 jam. Wereng hijau menjadi dewasa pada waktu pagi. Imago
jantan dan betina dapat hidup sampai 20 hari. Imago wereng hijau mempunyai
tanda pada sayap bagian bawah yang lebih hitam dibanding dengan yang lain.
Wereng hijau betina dapat menghasilkan telur sampai 300 butir. Produksi telur
wereng hijau yang tertinggi terjadi pada suhu antara 29º- 33º C. Pada suhu 20º
C imago betina mati sebelum bertelur, sedangkan pada suhu 35º C produksi telur
rata-rata rendah karena masa imago lebih pendek pada suhu itu (Fachruddin,
1980).
Hama Ganjur (Orselia oryzae)
Hama ganjur semula bukan
merupakan hama yang penting tetapi sejak tahun 1960 berubah menjadi hama yang
serius (Kalshoven, 1981). Hama ini termasuk family Cecidomiidae ordo Diptera.
Berdasarkan laporan Direktorat Jendral Tanaman Pangan sejak tahun 1997 sampai
tahun 2006 luas serangan ganjur di seluruh Indonesia seluas berkisar antara
1.882 ha sampai 15.255 ha dengan rerata 6.230 ha. Serangga ini menyerang titik
tumbuh padi, tunas yang diserang akan terbentuk puru, sehingga di beberapa
daerah dikenal dengan nama pentil, hama bawang atau hama mending.

Pada serangan berat, tanaman padi yang terserang akan
menstimulir pembentukan tunas baru dan tunas yang terserang tidak akan
terbentuk malai, sehingga dapat menyebabkan puso. Di daerah endemis, padi yang
waktu tanamannya lambat akan terserang oleh hama ini. Tanaman yang dipupuk
nitrogen
dosis tinggi mendapat serangan ganjur berat.
dosis tinggi mendapat serangan ganjur berat.
Gambar 10. Hama Ganjur
1. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Diptera
Famili
: Cecidomyiidae
Genus
: Orselia
Spesies
: Orselia (Pachydiplosis) oryzae
Wood-Mason
2.
Biologi dan Morfologi
Serangga ini bermetamorfosa
sempurna telur diletakkan pada helaian daun, setelah menetas menjadi larva,
meuju titik tumbuh tanaman padi dan mulai menyerang tanaman padi.
Telur
Telur yang baru diletakkan berwarna bening, setelah
beberapa hari berwarna kekuningan. Telur beruuran panjang 0,5 mm, Lebar 0,2 mm
dan diletakkan pada helaian daun dan pelepah daun. Stadia telur 3-4 hari,
kemudian akan menetas menjadi larva.
Larva
Larva berwarna putih, oleh adanya kelembaban pada tanaman
di sekitarnya larva menuju titik tumbuh. Stadia larva ada tiga instar, periode
instar pertama 6 -7 hari, instar kedua 2-3 hari, instar ketiga 5 – 6 hari,
sehingga seluruh stadia larva berkisar 13 -16 hari. Pada Larva instar awal
dalam satu tunas padi dapat dijumpai beberapa ekor larva. Pada stadia larva
instar lanjut atau prapupa.
Pupa
Pupa berwarna kemerahan berukuran panjang 2,5 mm. Semula
berada pada pangkal tanaman, semakin lanjut maka tunas akan terbentuk puru dan
pupa akan menuju ke ujung puru. Periode stadia pupa 6 – 7 hari. Pupa yang akan
melubangi puru diujungnya, kemudian imago keluar lewat lubang tersebut dan
meninggalkan kulit pupa.
Imago
Imago
berbentuk nyamuk berwarna merah kecoklatan. Imago keluar dari puru, terbanyak
terjadi pada pukul 18.00 – 21.00. Imago betina yang keluar dari puru langsung
berkopulasi lalu meletakkan telur. Seekor betina dapat meletakkan telur sekitar
206 – 232 butir. Sebagian besar telur menetas pada malam hari. Imago aktif pada
malam hari dan tertarik lampu. Periode imago hanya 1 – 2 hari. Perbandingan
betina – jantan sekitar 3 – 1.
Serangga ini menyukai keadaan lembab, sehingga pertanaman
padi pada musim penghujan akan mendapat serangan lebih besar dibanding pada
musim kemarau. Pada musim penghujan puncak populasi ganjur terjadi pada
generasi ketiga atau keempat. Disamping itu serangannya rendah pada tanaman
muda tetai pada tanaman berumur 30 hari setelah tanam serangannya akan
meningkat.

Gambar
11. Siklus Hidup dan Gejala Serangan Hama Ganjur
Ulat Grayak (Mythimna separata)
Ulat grayak merupakan hama padi yang ditemui diberbagai
Negara Asia, Afrika dan Amerika latin. Ulat grayak yang menyerang pertanaman
padi termasuk genus Mythima, family Noctuidae, ordo Lepidoptera. Serangan dapat
terjadi sejak tanaman padi muda sampai padi akan di panen. Hama ini memakan
bagian daun padi. Bila serangannya berat, hanya tinggal tulang daunnya saja.
Pada stadia tanaman bermalai, ulat ini dapat memotong malai. Penurunan hasil
panen karena serangan hama ini dapat mencapai 17 %. Hama ini tertarik pada
tanaman yang dipupuk nitrogen dosis tinggi.
Di Indonesia serangan ulat
grayak ditemui hampir di emua provinsi. Luas padi terserang sejak tahun 1997
sampai tahun 2006 rerata 10.993 ha dengan kisaran serangan terendah tahun 2004
seluas 6.927 ha dan tertinggi tahun 2006 seluas 20.573 ha. Di Indonesia
terdapat 3 jenis Mythimna yaitu M.
separata, M.loreyi dan M.Venelba. Yang banyak dijumpai dilapangan yaitu M. separate dan M.loreyi. Serangga ini
termasuk family Noctuidae yang aktif pada malam hari, pada siang hari larvanya
berada pada pangkal tanaman dan pada malam hari makan daun padi. Serangga
dewasa pada malam hari tertarik sainar lampu.
1. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum :
Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Lepidoptera
Famili
: Noctuidae
Genus
: Mythimna
Spesies
: M. separata

Gambar 12. Larva dan Imago Ulat Grayak
2.
Biologi dan Morfologi
Telur
Telur diletakkan secara
berkelompok pada helaian daun dan pelepah daun ditutupi seperti rambut berwarna
terang. Telur yang individual berbentuk bulat spherical berukuran 0.6 – 0.7 mm.
Ketika telur baru diletakkan berwarna putih selanjutnya berwarna kekuningan dan
jika akan menetas berwrna cokelta gelap. Periode inkubasi telur 3 – 7 hari.
Larva
Larva yang baru menetas
berwarna putih, kepala cokelat kehitaman, berukuran panjamg 1,8 mm dan lebar
0,35 mm. Larva terdiri dari 5 – 6 instar, periode setiap instar berturut –
turut 3 : 3 : 4 : 4 dan 5 hari. Larva muda memakan helaian daun padi yang masih
muda, hingga daun yang diserang tinggal kerangkanya. Larva lanjut memakan daun
dengan memotong daun padi, sehingga menyebabkan daun berlubang. Jika serangan
berat, maka malai akan dipotongnya. Larva instar akhhir berukuran panjang 30 –
35 mm dan lebar 6 – 6,5 mm. Periode larva sekitar 21 – 28 hari. Larva instar
lanjut akan menuju ke pangkal tanaman atau tanah di sekitar tanaman untuk siap
manjadi prapupa. Ciri – ciri larva M. separata, larva muda berwarna hijau
terang sampai agak gelap dengan garis lateral yang sempit. Sedang larva lanjut
berwarna kelabu terang sampai gelap dengan garis lateral yang jelas sepanjang
tubuhnya, panjangnya sampai 4,5 cm. Larva M. loyeli, berwarna cokelat keabuan
atau hijau dengan garis longitudinal
Pupa
Pupa pada pangkal tanaman
atau tanah di sekitar tanaman padi, berwarna cokelat dan berukuran panjang 15 –
19 mm dan lebar 5 – 6 mm. Saat akan menjadi ngengat warnanya cokelat gelap.
Periode prapupa dan pupa rerata 10 -11 hari.


Gambar
13. Siklus Hidup Serta Gejala Serangan Ulat Gryak
Ngengat
/ Imago
Ngengat berwarna kecoklatan
pucat ditumbuhi bulu – bulu halus, panjang sekitar 2 – 5 cm. Ngengat makan
tetesan embun dan makanan manis lain seperti madu. Melakukan perkawinan 1 -3
hari setelah muncul. Ngengat jantan umumnya lebih pendek dari ngengat betina.
Ngengat betina dapat meletakkan telur rerata sampai 220 butir. Ngengat pada
malam hari tertarik lampu, pada lampu, pada lampu perangkap, dapat terkumpul
sampai 64 ekor semalam. Ciri- cirri Ngengat M.
separata berwarna kecoklatan dengan bintik hitam disayap depan, ukurannya
lebih besar M. loreyi berwarna
kecoklatan dan sayapnya bergaris tipis, ukurannya lebih besar dibanding M. Separata.
Belalang (Locusta migratori)
Belalang lebih banyak menyerang
bagian daun tanaman sehingga mengakibatkan daun menjadi berlubang atau sebagian
daun menjadi berkurang, akibatnya proses fotosintesis menjadi terhambat
sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman (Fattah
dan Hamkah, 2011).
1.
Klasifikasi
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Orthoptera
Famili
:
Acridiidae
Genus
: Locusta
Spesies : Locusta migratori Gambar 14.
Belalang
2.
Siklus
Hidup, Biologi dan Ekologi
Imago / Dewasa
Belalang merupakan kelas insekta
ordo Orthoptera yang memiliki ciri-ciri Antena pendek, pronotum tidak memanjang
ke belakang, tarsi beruas 3 buah, femur kaki belakang membesar, ovipositor
pendek. Ukuran tubuh betina lebih besar dibandingkan yang jantan. Sebagian
besar berwarna abu-abu atau kecoklatan dan beberapa mempunyai warna cerah pada
sayap belakang. Mempunyai alat suara berupa membran timpani yang terletak di
ruas abdomen pertama. Aktif pada siang hari (Subiyanto, 1991 dalam
Budiharsanto, 2006). Imago betina
yang memiliki warna coklat kekuning-kuningan Sementara imago jantan yang
memiliki warna kuning mengkilap berkembang lebih cepat dibandingkan dengan
betinanya. Lama hidup dewasa adalah 11 hari. Siklus hidup rata-rata 76 hari
sehingga dalam setahun dapat menghasilkan empat sampai lima generasi di daerah
tropis utamanya Asia Tenggara, sementara di daerah Subtropis serangga ini hanya
menghasilkan satu generasi per tahun. Dalam kehidupan dan perkembangan koloni
belalang dikenal mengalami tiga fase pertumbuhan populasi yaitu fase soliter,
fase transien, dan fase gregaria.Pada fase soliter, belalang hidup
sendiri-sendiri dan tidak menimbulkan kerugian atau kerusakan tanaman. Pada
fase gregaria belalang hidup bergerombol dalam kelompok-kelompok besar, berpindah-pindah
tempat dan menimbulkan kerusakan tanaman secara besar-besaran pula (Surtikanti,
2008).
Apabila belalang menjadi berkelompok
akan terjadi perubahan warna dari warna hijau dan berubah menjadi warna hitam
dan kuning, badan juga berubah menjadi lebih pendek, dan belalang ini akan
menghasilkan hormon yang menyebabkan berkumpul dalam suatu kawasan dan
menggalakkan pembentukan kawanan, Kawanan belalang inilah yang dapat
menghabiskan daun – daun tanaman sehingga tinggal tulang-tulang daun saja.
Telur
Seekor betina mampu menghasilkan
telur sekitar 270 butir. Telur ini berwarna keputih-putihan dan berbentuk buah
pisang, tersusun rapi dalam tanah pada kedalaman sekitar 10 cm. Belalang betina
siap meletakkan telur setelah lima sampai 20 hari bergantung temperatur. Seekor
betina mampu menghasilkan enam sampai tujuh kantong telur dalam tanah dengan
jumlah 40 butir per kantong. Imago betina hanya membutuhkan satu kali kawin
untuk meletakkan telur-telurnya dalam kantong-kantong.
Nimfa
Nimfa mengalami lima kali ganti
kulit (lima instar) dengan stadium nimfa terjadi selama 38 hari.

Gambar
15. Siklus Hidup Belalang
Walang Sangit (Leptocorisa spp)
Walang
sangit selain menyerang tananamn padi yang sudah bermalai dapat pula berkembang
pada rumput-rumputan seperti Panicium crusgalli L., Paspalum dilatatum Scop.,
rumput teki (Echinocloa crusgalli dan E. colonum). Hasegawa (1971) telah
mengidentifikasi ada 14 spesies hama walang sangit di Indonesia, namun yang
dominan adalah L. orotarius dan L. acuta.
1.
Leptocorisa
oratorius (Fabricius). Spesies ini banyak ditemukan di Asia Tenggara,
sangat mirip dengan L.acuta dan L. chinensis sehingga sering menimbulkan salah
identifikasi. Panjang badan berkisar antara 18,0 – 18,5 mm. Perbedaan tampak
jelas pada adanya titik berwarna kecoklatan pada abdomen bagian ventral –
lateral. Hama ini tersebar di India, Sri Langka,Kepulauan Nicobar, Pakistan,
Bhutan, Brunei, Vietnam, Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand, China,
Filipina dan Solomon.
2.
Leptocorisa acuta
(Thunberg) = L. varicornis F. spesies ini juga banyak ditemukan dan merupakan
hama yang cukup penting di Asia Timur . Ukuran badan relatif kecil dibandingkan
dengan spesies pertama. Panjang badan berkisar antara 15 – 16 mm. Penyebaran :
India, Burma, Bhutan, Vietnam, Thailand, Malaysia, Brunei, Indonesia, Hongkong,
Cina, Formosa, Singapura, Ryukyu, Filipina, Inggris, Irlandia, Australia,
Solomon dan Kepulauan Samoa.
3.
Leptocorisa
chinensis (Dallas) = L. Nitidula breddin ; L. Corbeti cina. Spesies ini
dilaporkan sebagai hama penting tanaman padi di Malysia, Cina dan Jepang serta
kadang juga ditemukan dipertanaman jagung dan kedelai. Panjang badan berkisar
17,3 – 17,8 mm. Dapat dibedakan dengan spesies lain dengan adanya spot hitam
kecoklatan pada sisi kepala dan pronotum. Penyebaran : Bhutan, Malaysia,
Vietnam, Indonesia, Cina, Jepang, Filipina, dan Kepulauan Bonin.
4.
Leptocorisa
bigutaa walker. Spesies ini umumnya terdapat di padi gogo di Serawak,
ditemukan pada tanaman Panicum sp diserawak, sabah dan Brunei. panjang badan
berkisar 16 – 17 mm.
5.
Leptocorisa
tegalica Ahmad = L. geniculata cina. Panjang badan 17 – 17,5 mm.
Penyebaran: Malaysia, Indonesia, Kepulauan Halmahera dan Filipina.
6.
Leptocorisa
lozunica Ahmad. Spesies ini kadang – kadang ditemukan pada pertenaman padi,
namun pada umumnya pada pertanaman Isachne globs Thunberg dan rerumputan di
Serawak. Panjang bdadan 11,3 – 11,5 mm. Penyebaran : Vietnam, Malaysia,
Filipina.
7.
Leptocorisa
pseudolepida Ahmad. Hampir mirip dengan L.Lozunica. Ukuran panjang badan
11,5 – 12,0 mm. Penyebarannya: Malaysia, Brunei, India Sri Langka dan
Indonesia.
8.
Leptocorisa
cortalis (Herrich-Schatter). Spesies ini ditemukan di pertanaman padi dan
jagung. Sangat mirip dengan L. bigutata, hanya dapat diibedakan dengan warna
ujung antenna. Panjang badan berkisar 14,7 – 15,2 mm. Penyebarann : Indonesia,
Vietnam, Brunei, Thailand, Singapura dan Filipina.
9.
Leptocorisa
ayamaruensis Doesberg dan Siwi. Spesies ini ditemukan di irian Jaya.
10.
Leptocorisa
discoidalis Walker. Ditemukan di Maluku dan Irian Jaya.
11.
Laptocorisa
sapdapolahae Ahmad. Ditemukan di Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi
dan Maluku
12.
Leptocorisa
solomonensis Ahmad. Ditemukan di Maluku dan Irian Jaya.
13.
Leptocorisa
timorensis Doesberg dan Siwi. Ditemukan di Timor.
1.
Klasifikasi
Klasifikasi
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Arthropoda
Kelas
: Insecta
Ordo
: Hemiptera
Famili
: Alydidae
Genus
: Leptocorixa
Spesies
: Leptocorixa Acuta Gambar 16. Walang Sangit
2.
Bioekologi
dan Morfologi
Walang
sangit (L. acuta) mengalami metamorfosis sederhana yang perkembangannya dimulai
dari stadia telur, nimfa dan imago. Imago berbentuk seperti kepik, bertubuh
ramping, antena dan tungkai relatif panjang. Warna tubuh hijau kuning
kecoklatan dan panjangnya berkisar antara 15 – 30 mm (Harahap dan Tjahyono,
1997).
Telur
Telur
berbentuk oval dan pipih, seperti cakram berwarna merah coklat gelap dan
diletakkan secara berkelompok. Kelompok telur biasanya terdiri dari 10 - 20
butir. Telur-telur tersebut biasanya diletakkan pada permukaan atas daun di
dekat ibu tulang daun. Peletakan telur umumnya dilakukan pada saat padi
berbunga. Telur akan menetas 5 – 8 hari setelah diletakkan. Perkembangan dari
telur sampai imago adalah 25 hari dan satu generasi mencapai 46 hari (Baehaki,
1992).


G
Gambar 17. Telur dan Imago Walang Sangit
Gambar 17. Telur dan Imago Walang Sangit
Nimfa
Nimfa berwarna kekuningan, kadang-kadang nimfa tidak terlihat karena warnanya sama dengan warna daun. Stadium nimfa 17 – 27 hari yang terdiri dari 5 instar (Harahap dan Tjahyono, 1997).
Nimfa berwarna kekuningan, kadang-kadang nimfa tidak terlihat karena warnanya sama dengan warna daun. Stadium nimfa 17 – 27 hari yang terdiri dari 5 instar (Harahap dan Tjahyono, 1997).
Imago
/ Dewasa
Imago
walang sangit yang hidup pada tanaman padi, bagian ventral abdomennya berwarna
coklat kekuning-kuningan dan yang hidup pada rerumputan bagian ventral
abdomennya berwarna hijau keputihan. Bertelur pada permukaan daun bagian atas
padi dan rumput-rumputan lainnya secara kelompok dalam satu sampai dua baris
(Rismunandar, 2003).
Aktif
menyerang pada pagi dan sore hari, sedangkan di siang hari berlindung di bawah
pohon yang lembab dan dingin (Baehaki, 1992).
Nimfa dan imago mengisap bulir padi pada fase masak susu, selain itu dapat juga mengisap cairan batang padi. Malai yang diisap menjadi hampa dan berwarna coklat kehitaman. Walang sangit mengisap cairan bilir padi dengan cara menusukkan styletnya. Nimfa lebih aktif daripada imago, tapi imago dapat merusak lebih banyak karena hidupnya lebih lama. Hilangnya cairan biji menyebabkan biji padi mengecil jika cairan dalam bilir tidak dihabiskan. Dalam keadaan tidak ada bulir yang matang susu, maka dapat menyerang bulir padi yang mulai mengeras, sehingga pada saat stylet ditusukkan mengeluarkan enzim yang dapat mencerna karbohidrat.
Nimfa dan imago mengisap bulir padi pada fase masak susu, selain itu dapat juga mengisap cairan batang padi. Malai yang diisap menjadi hampa dan berwarna coklat kehitaman. Walang sangit mengisap cairan bilir padi dengan cara menusukkan styletnya. Nimfa lebih aktif daripada imago, tapi imago dapat merusak lebih banyak karena hidupnya lebih lama. Hilangnya cairan biji menyebabkan biji padi mengecil jika cairan dalam bilir tidak dihabiskan. Dalam keadaan tidak ada bulir yang matang susu, maka dapat menyerang bulir padi yang mulai mengeras, sehingga pada saat stylet ditusukkan mengeluarkan enzim yang dapat mencerna karbohidrat.
Hama Putih (Nymphula depunctalis)
Hama putih menyerang tanaman muda dan fase vegetatif.
Bagian tanaman yang diserang daun. Stadia serangga yang merusak yaitu stadia
larva. Gejala serangan hampir sama dengan hama putih palsu, yaitu adanya bagian
daun yang berwarna putih memanjang sejajar dengan tulang daun. Bedanya hama
putih akan memotong daun sepanjang 2 – 4 cm kemudian menggulunginya dan larva
sembunyi dalam gulunngan tersebut. Gulungan daun yang berisi larva dapat
menempel pada daun padi atau mengapung
di atas permukaan air. Larva makan dari dalam gulungan daun setelah
gulungan yang berisi larva dapat menempel pada daun dan larva mengeluarkan
kepala dari thorak untuk makan. Perpindahan larva sangat dibantu adanya
genangan air pada petakan sawah. Hama putih ditemui di areal berbagai
pertanaman padi di Indonesia, jawa, sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara dan
Irian.
1. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum :
Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Lepidoptera
Famili : Pyralidae
Genus
: Nymphula
Spesies
: Nymphula depunctalis

G
g
Gambar 18. Ngengat Hama Putih
2. Biologi dan Morfologi
Ngengat / Imago
Ngengat berwarna putih,
panjang badan 6 mm dan rentang sayap 15 mm. Negengat besifat nocturnal dan
fototropis kuat. Ngengat mampu hidup 4 – 8 hari.
Telur
Induk betina dapat menghasilkan telur sampai 50 butir.
Kelompok telur diletakkan pada bagian bawah daun yang telah mengambang di atas
permukaan air, jarang sekali pada daun yang masih tegak. Satu kelompok telur
terdiri 10 – 12 butir. Hama ini hanya suka meletakkan telur pada daun dari
tanaman muda, sangat jarang ditemukan serangan hama putih pada tanaman yang
telah berumur lewat 40 hari. Lama periode telur 2 – 6 hari. Telur berbentuk pipih tidak teratur, berwarna
kuning muda dan berubah menjadi tua pada waktu akan menetas.
Larva
Larva yang baru menetas berwarna krem pucat dengan kepala
berwarna kuning muda dan kemudian larva yang sudah berkembang penuh berwarna
hijau pucat. Panjangnya 20 mm. Lama
periode larva 14 – 20 hari, selama periode larva lima instar, larva instar
kelima mempunyai panjang 14 mm. Selama hidupnya larva berada dalam kantong
bumbung yang dibuat dari potongan daun. Larva bersifat akuatik dan aktif pada
malam hari dimana larva dalam gulungan daun naik ke pertanaman dan makan.
Pupa
Stadia pupa sekitar 6 – 8 hari dan siklus hidupnya 30 -35
hari. Tipe pupa obtekta atau bebas
berwarna krem.


Gambar
19. Telur, Larva, Pupa dan Ngengat Hama Putih
Hama Putih Palsu (Chanophalocrosis medinalis)
Hama ini termasuk family pyralidae, ordo Lepidoptera.
Hanya stadia larva yang bertindak sebagai hama, menyerang pertanaman padi
sawah, gogo dan gogo rancah. Sejak persemaian sampai panen. Bagian tanaman padi
yang diserang adalah daun, menyebabkan bagian daun yang terserang berwarna
putih transparan memanjang sejajar tulang daun karena zat hijau daun dimakan
dan hanya disisakan kulit epidermis bagian atas.
Larva makan dan merusak daun, sehingga berpengaruh
terhadap fotosintesis pada daun yang tidak diserang. Disamping itu daun padi
digulung ke bagian atas dan tepi daun direkatkan dengan benang – benang yang
dihasilkan oleh larva. Larva tinggal dalam gulungan daun tersebut dan makan di
dalamnya.
1.
Klasifikasi
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum :
Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Lepidoptera
Famili
: Pyralidae
Genus
: Chanophalocrosis
Spesies
: Chanophalocrosis medinalis Gambar 20. Hama
Putih Palsu
2. Biologi dan Morfologi
Ngengat
/ Imago
Serangga dewasa (Ngengat) berwarna cokelat muda dengan
garis hitam pada sayap. Panjang rentang sayap 13 – 15 mm, sedangkan panjang
badan 10 – 12 butir per kelompok. Sayap
berwarna kuning kecoklatan dan mengilap dengan garis gelap yang lebar, juga
terdapat 2 – 3 garis vertikal. Ngengat hidup selama 10 hari.
Telur
Telur berbentuk pipih lonjong berwarna terang yang akan
berubah menjadi krem pada waktu akan menetas. Satu ekor ngengat dapat
menghasilkan telur sampai 300 butir. Lama periode telur 4 – 6 hari.
Larva
Larva
yang baru menetas berwarna putih kehijauan dengan panjang 1.5 – 2 mm dan lebar
0,2 - 0,3 mm dan kepala berwarna coklat
muda. Setelah berkembang penuh larva berwarna hijau kekuningan dan kepalanya
coklat hitam. Lama periode larva sekitar 15 – 16 hari, selama stadia larva
terjadi lima kali pergantian kulit sebelum menjadi pupa. Panjang larva instar
ke enam 20 – 25 mm dengan lebar 1,55 – 2 mm.
Gambar 21. Larva Hama Putih Palsu
Pupa
Pupa berwarna kuning muda dan akan menjadi coklat
menjelang munculnya ngengat. Pupa terbungkus kokon dari benang sutra berwarna
kuning dan berada didalam gulungan daun padi yang dilipat oleh larva. lama
periode pupa 4 - 8 hari.
Keong Mas (Pomacea canaliculata)
1. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Molusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Mesogastropoda
Famili
:
Ampullariidae
Genus
: Pomacea
Spesies
: Pomacea canaliculata
2. Biologi dan Morfologi

Gambar 22. Morfologi dan Siklus Hidup Keong Mas
Dewasa
Bentuk cangkang keong mas hampir
mirip dengan siput sawah yang disebut gondang, bedanya cangkang keong mas
berwarna kuning keemasan hingga coklat transparan serta lebih tipis. Dagingnya
lembut berwarna krem keputihan sampai merah keemasan atau oranye kekuningan,
besarnya kurang lebih 10 cm dengan diameter cangkang 4-5 cm. cangkangnya
berbentuk bulat mencapai tinggi lebih dari 10 cm, dengan berat 10 – 20 gram,
berwarna kekuningan. Pada mulut cangkang keong mas terdapat operculum yang bentuknya
bulat berwarna coklat kehitaman pada baian luarnya dan coklat kekuningan pada
bagian dalamnya. Pada bagian kepala terdapat dua buah tentakel sepasang
terletak dekat dengan mata lebih panjang dari pada dekat mulut. Kaki lebar
berbentuk segitiga dan mengecil pada bagian belakangnya, mereka dapat hidup
pada perairan yang deras dengan komponen utama tumbuhan air dan bangkai.
Telur
Keong ini termasuk hewan berjenis
kelamin tunggal. Perkawinan keong mas dapat dilakukan sepanjang musim. Seekor
keong mas mampu memproduksi sekitar 1000 – 1.200 butir telur tiap bulan atau
200 – 300 butir per minggu. Telur keong mas berwarna merah jambu, diletakkan
pada malam hari, diletakkan pada malam haru secara berkelompok di rumpun padi
dekat pematang sawah ataupun ranting. Bertelur
di tempat yang kering 10-13 cm dari permukaan air, kelompok telur memanjang
dengan warna merah jambu seperti buah murbai karena itu disebut siput murbai,
panjang kelompok telur 3 cm lebih, lebarnya 1-3 cm, dalam kelompok besarnya
4,5-7,7 mg ukuranya 2,0 mm (Balai Informasi Pertanian, 1990/1991). Telur
menetas setelah 7 – 14 hari.
Keong mas muda yang baru menetas
berukuran 1,7 – 2,2 mm langsung meninggalkan cangkang telur dan masuk ke dalam
air. Dua hari kemudian cangkang keong tersebut sudah menjadi keras. Keong mas
muda berukuran 2 – 5 mm memakan alga dan bagian tanaman yang lunak. Pertumbuhan
awal berlangsung selama 15 – 25 hari. Pada
umur 26 – 29 hari keong mas sangat rakus dalam mengkonsumsi makanan. Periode
berkembang biaknya sangat panjang, mulai umur 60 hari sejak menetas sampai umur
tiga tahun. Keong mas memerlukan waktu sekitar 3 – 4 jam pada saat melakukan
perkawinan di daerah senantiasa mendapatkan air sepanjang tahun. Apabila sawah
dikeringkan maka keong mas akan menyusup ke dalam tanah hingga kedalaman 30 cm
dan melakukan dipause. Setelah sawah digenangi maka keong mas akan bermunculan
ke permukaan tanah. Keong mas dapat bertahan dalam tanah tanpa makan untuk
jangka waktu sampai enam bulan.
Kepiding Tanah (Scotinophara choarctata)
Hama kepiding tanah merupakan salah
satu hama potensial pada tanaman pada padi. Kepiding tanah, Scotinophara
coarctata termasuk famili Pentatomidae, Ordo Hemiptera. Populasi dan
serangannya relatif kecil tetapi selalu ada sepanjnag waktu di berbagai daerah
di Indonesia. Kepiding aanah juga bisa menjadi hama utama tanaman padi di
daerah – daerah sawah lebak atau sawah pasang surut yang konsidinya selalu
tergenang air, dengan kelembaban tinggi, telebih pada musim hujan. Hama ini
menyukai tanaman yang dipupuk nitrogen dosis tinggi. Matteson (2000)
mengemukakan bahwa pola iklim yang tidak normal menyebabkan terjadinya migrasi
serangga ini, sehingga menyebabkan outbreak. Serangga dewasa dapat migrasi ke
tempat yang jauh pada malam hari tertarik lampu dan mengeluarkan bau tidak
sedap jika diganggu. Serangan kepiding tanah sejak tahun 1997 sampai 2006
berkisar antara 2.775 ha dan tertinggi seluas 19.047 ha pada tahun 1998, rerata
luas serangan selama sepuluh tahun yaitu 6.162 ha.
Serangga kepiding tanah termasuk jenis
kepik berwarna hitam kusam dengan panjang 7- 10 mm dan lebar 4 mm. Tanaman
inang terdiri dari padi, jagung dan tumbuh – tumbuhan golongan rumput –
rumputan (graminae). Semua stadia tanaman sejak bibit, stadia vegetatif,
berbunga dan bermalai diserangnya. Serangga ini menghisap cairan tanaman pada
bagian batang padi, sehingga dalam populasi yang tinggi menyebabkan tanaman
menjadi kuning atau merah kecoklatan, akhirnya layu dan mati yang disebut
dengan terbakar (bug burn). Kepadatan populasi kepiding tanah sangat
berpengaruh terhadap besarnya serangan hama tersebut pada tanaman padi.
Infestasi awal kepiding tanah pada tanaman yang lebih muda menimbulkan
kerusakan tinggi. Semakin awal infestasi semakin berkurang produksi yang
dihasilkan. Penurunan hasil padi pada infestasi stadia anakan (30 HST) pada
kepadatan 25 – 75 ekor per rumpun hasilnya akan berkurang antara 51 – 71 %.
Sedang jika infestasi pada stadia tanaman generatif, pada kepadatan 25 – 75
ekor per rumpun hasilnya akan berkurang antara 37 – 48 %. Pada serangan berat
dapat menurunkan hasil 60 sampai 80 %.
1.
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum :
Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Hemiptera
Famili : Pentatomidae
Genus
: Scotinophara
Spesies : Scotinophara
choarctata


Gambar 23. Kepiding Tanah
dan Gejala Serangannya
2.
Biologi dan Morfologi
Siklus hidup
kepiding tanah berkisar antara 33 – 41 hari. Telur menetas setelah umur 7 hari.
Betina bertelur pada 12 – 17 hari setelah kawin. Telur diletakkan pada batanng
padi bagian bawah secara berkelompok sebanyak 30 butir per kelompok, Jumlah
telur yang diletakkan sampai 200 butir. Nimfanya melewati masa 5 instar selama
sekitar 6 minggu. Nimfa berwarna cokelat kekuningan dengan bintik hitam dan
tinggal pada pangkal tanaman pada siang hari dan makan dengan menghisap tanaman
pada malam hari. Serangga dewasa bisa hidup selama 7 bulan, dengan demikian
bisa hidup pada dua musim tanam padi melalui masa istirahat dan bersembunyi
pada rerumputan yang kondisinya basah atau lembab.
Perkembangan populasi kepiding tanah
pada tanaman padi sawah diawali dengan munculnya serangga dewasa pada saat
tanaman umur 2 – 3 minggu setelah tanam. Populasi tinggi pada musim hujan yang
merupakan populasi migrasi yang berasal dari rerumputan atau gulma yang tumbuh
di daerah absah atau lembab atau dari tanaman padi yang sudah dipanen apabila
pola tanamnya tidak serempak. Populasi meningkat sejalan dengan perkembangan
tanaman padi, sehingga puncak populasi kepiding tanah pada tanaman padi akan
dicapai pada saat menjelang panen. Kepiding tanah mempunyai musuh alami berupa
parasitoid, predator dan patogen serangga. Jenis musuh alami yang sering
dijumpai yaitu parasitoid telenomus sp. dan oxyopes sp dan patogen serangga
yaitu beauveria bassiana dan metarrhizium anisopliae.
Anjing Tanah (Gryllotalpa hilsuta)
Anjing tanah atau orong –orong merupakan salah satu hama
potensial pada tanaman padi di lahan kering atau sawah pasang surut. Anjing
tanah, termasuk famili gryllotalpidae, ordo orthoptera, populasi dan
serangannya relatif kecil tetapi sering menjadi masalah bagi tanaman padi di
lahan yang tidak tergenang seperti lahan kering (padi gogo) atau di lahan sawah
pasang surut, di Sumatera. Kalimantan, dan Jawa. Di Lampung pada cabe yang
ditanam sebagai tanaman sela di antara perkebunan kelapa, anjing tanah
merupakan hama yang perlu diwaspadai. Tungkai depan hama ini besar, digunakan
untuk menggali tanah. Anjing tanah termasuk serangga polyphagous yang memangsa
berbagai jenis tanaman terutama jenis serealia. Bagian tanaman yang diserang
yaitu benih, akar dan batang pada permukaan tanah. Hama ini merusak semua fase
pertumbuhan dengan cara memotong tanaman pada bagian pangkal batang di bawah
tanah dan bagian akar muda, sehingga menyebabkan batang menjadi putus dan busuk
(mati). Secara sepintas gejala serangan seringkali keliru dengan gejala
serangan penggerek batang padi. Terowongan anjing tanah tampak seperti bekas
galian tanah.
1.
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum :
Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Orthoptera
Famili
: Gryllotalpidae
Genus
: Gryllotalpa
Spesies
: Gryllotalpa hilsuta
2.
Biologi dan Morfologi
Serangga anjing tanah hidup dibawah/
di dalam tanah berwarna kuning kecoklatan dengan panjang 39 – 47 mm. Telur
berukuran panjang 2,5 mm diletakkan dalam lubang di bawah tanah. Seekor betina
dapat meletakkan telur sekitar 36 – 47 butir. Nimfa muda hidup bersama induk
jantan sampai instar – 2 dan makan dari humas serta akar tanaman muda. Betina
umumnya bersayap pendek dan bersuara keras selama 15 – 20 menit pada sore dan
malam hari, bertelur pada 12 -17 hari setelah kawin. Serangga ini mempunyai
musuh alami berupa parasitoid, predator dan patogen serangga. Jneis aptogen
serangga beauveria bassiana dapat menginfeksi sekitar 38 – 66 %.
Anjing tanah membuat terowongan
panjang di bawah permukaan tanah dan menyukai kondisi tanah yang lembab atau
basah. Tempat hidup biasanya di pinggir jalan , Pinggir saluran, lahan surjan
dan kebun – kebun. makanannya terdiri atas bagian tumbuhan seperti akar dan
batang bagian bawah dan hewan – hewan yang hidup di dalam tanah. Namun
demikian, berdasarkan informasi umum bahwa keuntungan sebagai predator lebih
kecil daripada kerugian sebagai hama merusak tanaman.

Gambar 24. Morfologi Anjing Tanah
Tikus Sawah (Rattus argentiventer)
1.
Klasifikasi Tikus
Sawah
Menurut storer dan usinger dalam
Balantek, maka klasifiikasii tikus sawah adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum :
Chordata
sub filum : Crainata
super kelas : Tetrapoda
Kelas :
Mammalia
Ordo :
Rodentia
Famili : Muridae
Genus : Rattus
Spesies : Rattus
argentiventer
Gambar 25. Tikus Sawah
2.
Jenis – Jenis Tikus
Di Indonesia terdapat sekitar 150 jenis tikus. Beberapa
penelitian mengungkapkan dari beberapa jenis yang empunyai peranan penting
dalam kehidupan manusia antara lain adalah Bandicota
indica, Rattus novergicus, Rattus argetiventer, Rattus rattus diardi, Rattus
exulants, Mus musculus dan Mus caroli.
Jenis – jenis tikus penting yang banyak menimbulkan
kerusakan pada pertanaman pertanian adalah R.
argentiventer, R. exulants, R. r.diardi dan R. novergicus.
R.
exulants adalah tikus yang merusak pertanaman khususnya padi yang masih di
pertanaman. Sedangkan R. r. diardi dan R. norvergicus terutama merusak hasil
pertanian yang berasa di tempat penyimpanan.
R.
argentiventer (tikus sawah) merupakan tikus yang paling banyak dijumpai.
Sebagian besar kerusakan tanaman padi di sawah disebabkan oleh tikus ini. R.
argentiventer merupakan hama utama tanaman padi pada sebagian besar
Negara-negara di Asia Tenggara.
3.
Biologi dan Morfologi Tikus Sawah
Ciri
– cirri tikus sawah dapat dikenal yaitu dari susunan giginya, sepasang gigi
seri pada rahang bagian depan berfungsi sebagai pengerat, di belakangnya
terdapat celah tanpa gigi taring dan premolar (diastema). Paling belakang
terdapat tiga pasang geraham.
Warna
bulu bagian atas coklat gelap bagian bawah atau perut krelabu. Telinga tidak
berambut dan ekor bersisik. Panjang ekor biasanya lebih pendek atau hampir sama
dengan panjang kepala dan badan. Panjang tikus dewasa dari ujung sampai ke
ujung ekor berkisar antara 270 – 370 mm. Panjang ekor rata – rata 85 % dari
panjang badan dan kepala. Panjang ekor dikukur dari ujung sampai pangkal,
sedangkan badan dan kepala diukur dari pangkal ekor sampai ke ujung hidung.
Panjang telinga 18 – 21 mm. Panjang telapak kaki belakang diukur dari tumit sampai
ujung kuku jari – jari yang terpanjang
adalah berkisar antara 32 – 39 mm. Jumlah putting susu tikus betina 12 buah, 3
pasang di dada dan 3 pasang di perut. Tekstur rambutnya agak kasar.
Kaki
depan masing – masing berjari empat dan kaki belakang berjari lima. Pada
telapak kaki belakang terdapat tiga pasang kuku kepalan dua diantaranya
terlihat jelas dan yang satu bagian belahan belakang rudimeter. Berat tikus
dewasa berkisar antara 70 – 230 gram.
Tikus
sawah (R. argentiventer Rob. & kloss) merupakan kelompok binatang yang
sangat aktif pada malam hari. Untuk mengimbangi kegiatan ini diperlukan
penyediaan kalori yaitu makanan yang cukup. Tikus meninggalkan lubangnya pada
sore hari untuk mencari makanan dengan menempuh jarak sejauh 800 – 1000 meter. Pulang
melalui jalan yang sama.
Tikus
mempunyai gigi seri yang sangat tajam dan tumbuh terus selama hidupnya dan
dapat tumbuh mencapai 15 – 25 cm. Salah satu ciri dari tikus sebagai
hewan pengerat adalah kemampuannya untuk mengerat benda-benda yang keras dengan
maksud untuk mengurangi pertumbuhan gigi serinya yang tumbuh secara terus
menerus. Perttumbuhan secara terus menerus tersebut diakibatkan karena tidak
adanya penyempitan pada bagian pangkal sehingga terdapat celah yang
mengakibatkan pertumbuhan tersu menerus.
Tikus
sawah dapat berkembang biak mulai umur 1,5-5 bulan. Setelah kawin, masa bunting
memerlukan waktu 21 hari. Seekor tikus betina melahirkan rata-rata 8 ekor anak
setiap kali melahirkan, dan mampu kawin lagi dalam tempo 48 jam setelah melahirkan
serta mampu hamil sambil menyusui dalam waktu yang bersamaan. Selama satu tahun
seekor betina dapat melahirkan 4 kali, sehingga dalam satu tahun dapat
dilahirkan 32 ekor anak, dan populasi dari satu pasang tikus tersebut dapat
mencapai + 1200 ekor turunan.
Anak yang
baru lahir beratnya sekitar 2-4 g, berwama merah daging dan tidak berbulu.
Setelah umur 4 hari wamanya berubah menjadi biru kelabu dan pada umur 7- 10
hari tumbuh bulu berwama kelabu dan coklat, saat ini mata masih tertutup. Mata
anak tikus terbuka setelah umur 12-14 hari dan masa menyusui berlangsung sampai
umur 18-24 hari. Pada umur 28 hari anak tikus telah dapat berjalan dengan
cepat.

Gambar 26. Tikus Yang Baru Lahir dan Tikus
Dewasa
Hama Lundi ()

What are the best casinos for player's casino and casino in
ReplyDeleteIn the USA, a 파주 출장안마 casino can be found in 김해 출장마사지 many different 충주 출장샵 states where casinos are illegal but still 포천 출장마사지 legal to play. Find out more. 양주 출장샵