Monday, October 7, 2019

IDENTIFIKASI HAMA


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Salah satu penghambat di dalam usaha peningkatan produksi pangan adalah faktor hama (Sastrapradja et al. 1980). Hama adalah makhluk hidup yang mengurangi kualitas dan kuantitas beberapa sumber daya manusia yang berupa tanaman atau binatang yang dipelihara yang hasil dan seratnya dapat diambil untuk kepentingan manusia. Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Hama adalah semua organisme atau agens biotik yang merusak tanaman dengan cara yang bertentangan dengan kepentingan manusia (Endah & Novizan, 2002).
             Padi hingga kini masih merupakan bahan pangan pokok  yang penting bagi rakyat Indonesia. Kebutuhan akan beras semakin meningkat setiap tahunnya seiring dengan pertambahan penduduk. Menurut Balai Proteksi Tanaman Pangan Dan Hortikultura (2012) peningkatan produksi padi terakhir menunjukkan laju kenaikan yang melandai (leveling off) sedangkan tingkat penambahan penduduk saat ini masih tinggi.
            Penurunan produksi padi tidak lepas dari adanya cekaman lingkungan berupa hama dan penyakit. Kerugian yang ditimbulkan oleh hama pada padi diperkirakan berkisar antara 19 – 24 % tiap tahunnya. Luas tanaman padi tahun 2013 di Kalimantan Selatan adalah 525.304  ha. Untuk penyebaran luas tanam per kabupaten yakni luas tanam tertinggi terdapat di kabupaten Barito Kuala seluas 99.471 ha disusul kabupaten Banjar seluas 74.365 ha, kemudian kabupaten Tapin seluas 60.365 ha.. Luas serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) di Kalimantan Selatan pada tahun 2013 seluas 1.971,3 ha diantaranya puso seluas 231,2 ha.
Hama utama padi menyerang berbagai fase kehidupan tanaman yaitu pada fase persemaian, fase vegetative, fase generatif dan fase pemasakan. Hama pada fase persemaian yaitu wereng coklat, wereng hijau, hama putih palsu, keong mas dan tikus sawah. Sedang hama pada fase vegetative penggerek batang , wereng hijau, hama ganjur dan keong mas. Pada fase generatif biasanya wereng coklat, wereng hijau, penggerek batang, walang sangit, hama ganjur, ulat grayak, hama putih palsu, tikus sawah dan keong mas. Dan pada fase pemasakan, hama yang sering dijumpai adalah walang sangit, tikus sawah dan burung.
Mengingat jenis hama yang banyak, ada gunannya untuk mengenal jenis hama – hama padi
Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui jenis, bentuk/morfologi serta biologi hama – hama khususnya hama padi dengan cara mengidentifikasi hama – hama tersebut.







TINJAUAN PUSTAKA
Penggerek Batang Padi
            Di Indonesia telah di temukan 6 jenis penggerek batang padi yang terdiri dari penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas (Walker), penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata (Walker), penggerek batang padi bergaris Chilo suppressalis (Walker), penggerek batang padi kepala hitam Chilo polychrysus Meyrick, penggerek batang padi berkilat Chilo auricilius Dudgeon (kelima spesies tersebut termasuk ordo Lepidoptera dan famili Pyralidae), dan penggerek batang padi merah jambu Sesamia inferens (Walker) (spesies ini termasuk ordo Lepidoptera dan famili Noctuidae). Dari enam spesies tersebut hanya empat spesies yang banyak ditemukan sebagai hama utama padi yaitu penggerek batang padi kuning, penggerek batang padi putih, penggerek batang padi bergaris, dan penggerek batang padi merah jambu. Penggerek batang padi kepala hitam dan penggerek batang padi berkilat jarang ditemukan karena populasinya rendah.
            Setiap spesies penggerek batang padi memiliki sifat atau ciri yang berbeda dalam penyebaran dan bioekologi, namun hampir sama dalam cara menyerang atau menggerek tanaman padi serta kerusakan yang ditimbulkannya.
1.    Penggerek Batang Padi Kuning Scirpophaga incertulas (Walker)
Ngengat atau imago
            Spesies ini ditandakan dengan sayap ngengat yang berwarna kuning dengan titik hitam pada sayap depan. Panjang ngengat jantan 14 mm dan betina 17 mm, dapat hidup antara 5-10 hari. Siklus hidup 39-58 hari, tergantung pada lingkungan dan makanan. Jangkauan terbang dapat mencapai 6-10 km.
Telur
            Ngengat meletakkan telur secara berkelompok dan diletakkan pada daun bagian ujung. Jumlah telur 50-150 butir/kelompok. Kelompok telur ditutupi rambut halus berwarna coklat kekuningan yang diletakkan antara pukul 19.00-22.00 selama 3-5 malam sejak malam pertama. Keperidian 100-600 butir tiap betina. Stadium telur 6-7 hari.
Larva
            Larva berwarna putih kekuningan sampai kehijauan, dengan panjang maksimum 25 mm. Larva terdiri dari 5-7 instar, lama stadium larva 28-35 hari. Karena larva bersifat kanibal sehingga hanya ada seekor larva yang hidup dalam satu tunas. Larva yang menetas keluar melalui 2-3 lubang yang dibuat pada bagian bawah telur menembus permukaan daun. Larva yang baru muncul biasanya menuju bagian ujung daun dan menggantung dengan benang halus atau membuat tabung kecil, terayun oleh angin dan jatuh kebagian tanaman lain atau permukaan air. Larva kemudian bergerak ke tanaman melalui celah antara pelepah dan batang. Selama hidupnya larva dapat berpindah dari satu tunas ke tunas lainnya. Larva instar akhir menuju pangkal batang untuk berubah menjadi pupa. sebelum menjadi pupa, larva membuat lubang keluat pada pangkal batang dekat permukaan air atau tanah yang ditutupi embran tipis untuk jalan keluar setelah imago.
Pupa
            Pupa berwarna kekuning-kuningan atau agak putih, dengan kokon berupa selaput benang berwarna putih. Panjang 12-15 mm dan stadium pupa 6-23 hari. Pupa berada di dalam pangkal batang.
Gambar 1. Stadia penggerek batang padi kuning S. incertulas: (A)-ngengat atau imago; (B)-kelompok telur; (C)-larva; (D)-pupa

Karakteristik penggerek batang padi kuning
Tanaman inang utama adalah padi dan tanaman padi liar. Penyebarannya luas dari daerah tropis sampai subtropis. Perubahan kepadatan populasi penggerek batang padi kuning di lapangan sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim (curah hujan, suhu, kelembaban), varietas padi yang ditanam, dan musuh alami yaitu parasitoid, predator, dan patogen.
2. Penggerek Batang Padi Putih Scirpophaga innotata (Walker)
Ngengat atau imago
            Sayap ngengat berwarna putih dengan ukuran betina 13 mm dan jantan 11 mm.
Telur
            Telur diletakkan berkelompok pada permukaan atas daun atau pelepah. Bentuk kelompok telur sama dengan kelompok telur penggerek batang padi kuning. Kelompok telur di tutupi rambut halus berwarna coklat kekuning-kuningan. Satu kelompok telur terdiri dari 170-260 butir dan lama stadium telur 4-9 hari.
Larva
            Bentuk larva mirip larva penggerek batang padi kuning dengan panjang maksimal 21 mm dan berwarna putih kekuningan. Stadium larva 19-31 hari kecuali untuk larva yang berdiapause. Pada akhir musim kemarau, larva instar akhir tidak langsung menjadi pupa, tetapi mengalami diapauses dalam pangkal batang atau tunggul. Hal ini biasanya terjadi di daerah tropis yang memiliki perbedaan musim hujan dan kemarau yang jelas lamanya diapause tergantung pada lamanya musim kemarau. Setelah turun hujan dan tanah lembab, larva yang berdiapause akan menjadi pupa.
Gambar 2. Stadia penggerek batang padi Putih Scirpophaga innotata (A)-ngengat atau imago; (B)-kelompok telur; (C)-larva; (D)-pupa
Pupa
            Lama stadium pupa 6-12 hari. Pupa yang berasal dari larva yang berdiapause akan menjadi ngengat secara bersamaan atau serentak. Dengan demikian generasi penggerek batang padi putih pada awal musim hujan seragam
Karakteristik penggerek batang padi putih
            Tanaman inang adalah padi dan padi liar. Dinamika populasi penggerek batang padi putih sangat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan terutama curah hujan atau ketersediaan air (irigasi) dan musuh alami.
3. Penggerek Batang Padi Bergaris Chilo suppressalis (Walker)
Ngengat atau imago
            Ngengat bisa hidup sampai satu minggu dan aktif mulai senja. Kepala ngengat berwarna coklat muda dan warna sayap depan coklat tua dengan venasi sayap yang jelas. Panjang ngengat 13 mm.
Telur
            Seekor betina bisa bertelur 100-550 butir dalam kelompok, yang terdiri dari 60-70 telur/kelompok selama 3-5 malam. Telur diletakkan pada pangkal daun atau kadang-kadang pada pelepah. Telur berwarna putih dan tidak dtutupi rambut dengan lama stadium telur 4-7 hari
Larva
            Setelah menetas larva masuk kedalam pelepah daun dan kemudian masuk kedalam batang. Larva berwarna abu-abu, kepala berwarna coklat dengan garis coklat sejajar tubuhnya. Panjang maksimal 26 mm. Stadium larva 33 hari. Beberapa ekor larva bisa hidup pada satu buku dari satu tunas. Perubahan kepadatan populasi penggerek batang padi bergaris tergantung pada temperature dan ketersediaan makanan. Satu siklus hidup bisa mencapai enam generasi/tahun.
Pupa
            Larva instar akhir berpupa di dalam batang. Warna pupa coklat tua dengan stadium pupa 6 hari .
Gambar 3. Stadia penggerek batang padi bergaris C. suppressalis: (A)-ngengat atau imago; (B)-kelompok telur; (C)-larva; (D)-pupa

Karakteristik penggerek batang padi bergaris
            Tanaman inang penggerek batang padi bergaris terutama adalah padi, padi liar, jagung, dan beberapa jenis rumput. Penyebaran lebih luas bisa mencapai 40 0 lintang utara.
4. Penggerek Batang Padi Merah Jambu Sesamia inferens (Walker)
Ngengat atau imago
            Ngengat berwarna coklat, sayap depan bergaris coklat tua memanjang dan sayap belakang putih. Panjang ngengat 4-17 mm. Kurang tertarik cahaya.
Telur             
            Telur diletakkan diantara pelepah daun batang padi mirip manik-manik dalam 2 –3 baris per kelompok. Kelompok telur tidak tertutup sisik. Satu kelompok bisa terdiri dari 30-100 butir dengan masa stadium telur 6 hari.
Larva
            Larva berwarna merah jambu dengan panjang maksimal 35 mm. Stadium larva 28-56 hari. Beberapa ekor larva bisa hidup pada satu buku dari satu tunas.
Pupa
            Pupa berwarna coklat tua dengan panjang 18 mm. Pupa terdapat dalam pelepah atau dalam batang dan stadium pupa 8-11 hari. Total siklus hidup 46-83 hari.
Gambar 4. Stadia penggerek batang padi merah jambu sesamia inferens (walker) (A)-ngengat atau imago; (B)-kelompok telur; (C)-larva; (D)-pupa

Karakteristik penggerek batang padi merah jambu:
            Penyebarannya luas dan bersifat polifag. Dapat hidup dari tumbuhan famili Graminae dan Cyperaceae. Penggerek batang padi merah jambu lebih beradaptasi pada lingkungan darat karena tanaman inang yang beragam, namun terdapat juga di lingkungan sawah dan air dalam.

Wereng Coklat (Nilaparvata lugens Stal)
            Wereng coklat merupakan hama tanaman padi yang paling berbahaya dibandingkan dengan hama lainnya. Hal itu disebabkan wereng coklat mempunyai sifat plastis, yaitu mudah beradaptasi pada keadaan atau kondisi lingkungan baru.
Disamping itu wereng coklat juga merupakan vector (penular) virus penyakit kerdil rumput (grassy stunt) dan kerdil hampa (ragged stunt). Di Indonesia Wereng Coklat tersebar luas hampir di seluruh kepulauan, kecuali di daerah Maluku dan Papua.
1.    Klasifikasi
Kingdom    : Animalia
Kelas          : Insecta
Ordo           : Homoptera
Sub Ordo   : Auchenorrhyncha
Famili         : Delphacidae
Genus         : Nilaparvata
Species       : Nilaparvata lugens Stal
2.    Biologi dan Morfologi
Dewasa / Imago
            Wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal) adalah serangga penghisap cairan tanaman yang berwarna kecoklatan. Panjang tubuh 2 - 4,4 mm. Serangga dewasa mempunyai 2 bentuk, yaitu bersayap pendek (brakhiptera) dan bersayap panjang (makroptera). Serangga makroptera mempunyai kemampuan untuk terbang, sehingga dapat bermigrasi cukup jauh. Wereng coklat adalah serangga monofag, inangnya terbatas pada padi dan padi liar (Oryza parennis dan Oryza spontanea).
Telur
            Wereng Coklat berkembang biak secara seksual, siklus hidupnya relatif pendek. Masa peneluran 3-4 hari untuk wereng bersayap pendek (brakhiptera) dan 3-8 hari untuk bersayap panjang (makroptera). Tingkat perkembangan wereng betina dapat dibagi ke dalam masa peneluran 2-8 hari, masa bertelur 9-23 hari. Masa peneluran dapat berlangsung dari beberapa jam sampai 3 hari. Sedangkan masa pra-dewasa adalah 19-23 hari. Telur diletakkan berkelompok dalam pangkal pelepah daun, tetapi bila populasi tinggi telur diletakkan pada ujung pelepah daun dan tulang daun. Jumlah telur yang diletakkan serangga dewasa sangat beragam, dalam satu kelompok antara 3-21 butir. Seekor wereng betina selama hidupnya menghasilkan telur antara 270-902 butir yang terdiri atas 76-142 kelompok. Telur menetas antara 7-11 hari dengan rata-rata 9 hari.
Nimfa
            Metamorfosis wereng coklat sederhana atau bertingkat (hetero-metabola). Serangga muda yang menetas dari telur disebut nimfa, makanannya sama dengan induknya. Nimfa mengalami pergantian kulit (instar), rata-rata untuk menyelesaikan stadium nimfa adalah 12,8 hari. Lamanya waktu untuk menyelesaikan stadium nimfa beragam.
Gambar 5. Siklus hidup wereng coklat

     Telur                                     Nimfa
Gambar 6. Telur dan nimfa wereng coklat
            Nimfa dapat berkembang menjadi dua bentuk wereng dewasa. Bentuk pertama adalah bersayap panjang (makroptera) dengan sayap belakang normal, bentuk kedua adalah bersayap kerdil (brakhiptera) dengan sayap belakang tidak normal. Umumnya wereng brakhiptera bertubuh lebih besar, mempunyai tungkai dan peletak telur lebih panjang. Kemunculan makroptera lebih banyak pada tanaman tua daripada tanaman muda, dan lebih banyak pada tanaman setengah rusak daripada tanaman sehat.
 
Makroptera                           Brakhiptera
Gambar 7. Wereng Coklat Bersayap (Makroptera) dan Tanpa Sayap (Brakhiptera).


Wereng Hijau (Nephotettix virescens Distant)
1.    Klasifikasi
Menurut Kalshoven (1981), wereng hijau (Nephotettix virescens Distant) termasuk ke dalam :
                              Kingdom              : Animalia
                              Filum                    : Arthropoda
                              Kelas                    : Insekta
                              Ordo                     : Homoptera
                              Famili                   : Cicadellidae
                              Genus                   : Nephotettix
                              Spesies                  : Nephotettix virescens Distant
Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\Dup(01)images-5.jpeg Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\2015-12-11-09-55-56-769507999.jpeg
Gambar 8.Wereng Hijau dan Gejala Serangannya
2.    Biologi dan Morfologi
      Telur
       Telur wereng hijau berbentuk bulat memanjang dan agak meruncing pada kedua ujungnya.Telur yang baru diletakkan berwarna bening, kemudian menjadi putih kekuning-kuningan. Pada umur 2 atau 3 hari dua bintik merah mulai tampak pada salah satu ujungnya.Bintik tersebut lebih nyata pada umur yang lebih tua dan ini merupakan mata facet embrio (Fachruddin, 1980).
           Masa inkubasi telur antara 6 – 10 hari. Perkembangan 29º - 35ºC, dengan masa inkubasi 6,3 - 7,3 hari. Pada suhu yang lebih rendah masa inkubasi bertambah lama.Sebagian besar telur menetas diwaktu pagi antara pukul 06.00 sampai 12.00, namun pada suhu rendah (20ºC) waktu penetasan telur tersebar dari pagi sampai sore hati (Gallagher, 1991).
Nimfa
               Nimfa N. virescens terdiri atas 5 instar yang berlangsung keseluruhannya selama 13-18 hari. Nimfa muda berwarna putih kekuningan.Setelah berganti kulit warnanya menjadi kuning atau hijau kekuningan hingga hijau terang. Setiap kali akan berganti kulit nimfa tidak aktif dan tetap pada tempatnya. Nimfa dari telur yang menetas akan segera bergerak menuju ke bagian atas tanaman dan berkumpul pada bagian bawah daun tua. Pada instar ke-2 dan seterusnya nimfa-nimfa tersebut merata pada daun padi. Pada tanaman yang layu nimfa berkumpul pada bagian pangkal pelepah daun (Hibino, 1987).
Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\2015-12-11-09-54-11--446377204.jpeg
Gambar 9. Siklus Hidup Wereng Hijau
 Imago
            Wereng hijau yang baru menjadi dewasa berwarna kekuning-kuningan.Warna tersebut secara bertahap berubah menjadi hijau kekuning-kuningan yang akhirnya berubah menjadi hijau dalam waktu ± 3 jam. Wereng hijau menjadi dewasa pada waktu pagi. Imago jantan dan betina dapat hidup sampai 20 hari. Imago wereng hijau mempunyai tanda pada sayap bagian bawah yang lebih hitam dibanding dengan yang lain. Wereng hijau betina dapat menghasilkan telur sampai 300 butir. Produksi telur wereng hijau yang tertinggi terjadi pada suhu antara 29º- 33º C. Pada suhu 20º C imago betina mati sebelum bertelur, sedangkan pada suhu 35º C produksi telur rata-rata rendah karena masa imago lebih pendek pada suhu itu (Fachruddin, 1980).

Hama Ganjur (Orselia oryzae)
            Hama ganjur semula bukan merupakan hama yang penting tetapi sejak tahun 1960 berubah menjadi hama yang serius (Kalshoven, 1981). Hama ini termasuk family Cecidomiidae ordo Diptera. Berdasarkan laporan Direktorat Jendral Tanaman Pangan sejak tahun 1997 sampai tahun 2006 luas serangan ganjur di seluruh Indonesia seluas berkisar antara 1.882 ha sampai 15.255 ha dengan rerata 6.230 ha. Serangga ini menyerang titik tumbuh padi, tunas yang diserang akan terbentuk puru, sehingga di beberapa daerah dikenal dengan nama pentil, hama bawang atau hama mending.
            Pada serangan berat, tanaman padi yang terserang akan menstimulir pembentukan tunas baru dan tunas yang terserang tidak akan terbentuk malai, sehingga dapat menyebabkan puso. Di daerah endemis, padi yang waktu tanamannya lambat akan terserang oleh hama ini. Tanaman yang dipupuk nitrogen Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\2015-12-11-09-57-30--1387086868.jpegdosis tinggi mendapat serangan ganjur berat.
 
Gambar 10. Hama Ganjur
1.    Klasifikasi
Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Insekta
Ordo               : Diptera
Famili              : Cecidomyiidae
Genus              : Orselia
Spesies            : Orselia (Pachydiplosis) oryzae Wood-Mason
2.    Biologi dan Morfologi
            Serangga ini bermetamorfosa sempurna telur diletakkan pada helaian daun, setelah menetas menjadi larva, meuju titik tumbuh tanaman padi dan mulai menyerang tanaman padi.
Telur
            Telur yang baru diletakkan berwarna bening, setelah beberapa hari berwarna kekuningan. Telur beruuran panjang 0,5 mm, Lebar 0,2 mm dan diletakkan pada helaian daun dan pelepah daun. Stadia telur 3-4 hari, kemudian akan menetas menjadi larva.
Larva
            Larva berwarna putih, oleh adanya kelembaban pada tanaman di sekitarnya larva menuju titik tumbuh. Stadia larva ada tiga instar, periode instar pertama 6 -7 hari, instar kedua 2-3 hari, instar ketiga 5 – 6 hari, sehingga seluruh stadia larva berkisar 13 -16 hari. Pada Larva instar awal dalam satu tunas padi dapat dijumpai beberapa ekor larva. Pada stadia larva instar lanjut atau prapupa.
Pupa
            Pupa berwarna kemerahan berukuran panjang 2,5 mm. Semula berada pada pangkal tanaman, semakin lanjut maka tunas akan terbentuk puru dan pupa akan menuju ke ujung puru. Periode stadia pupa 6 – 7 hari. Pupa yang akan melubangi puru diujungnya, kemudian imago keluar lewat lubang tersebut dan meninggalkan kulit pupa.
Imago
                        Imago berbentuk nyamuk berwarna merah kecoklatan. Imago keluar dari puru, terbanyak terjadi pada pukul 18.00 – 21.00. Imago betina yang keluar dari puru langsung berkopulasi lalu meletakkan telur. Seekor betina dapat meletakkan telur sekitar 206 – 232 butir. Sebagian besar telur menetas pada malam hari. Imago aktif pada malam hari dan tertarik lampu. Periode imago hanya 1 – 2 hari. Perbandingan betina – jantan sekitar 3 – 1.
            Serangga ini menyukai keadaan lembab, sehingga pertanaman padi pada musim penghujan akan mendapat serangan lebih besar dibanding pada musim kemarau. Pada musim penghujan puncak populasi ganjur terjadi pada generasi ketiga atau keempat. Disamping itu serangannya rendah pada tanaman muda tetai pada tanaman berumur 30 hari setelah tanam serangannya akan meningkat.
Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\2015-12-11-09-57-36-1011464422.png
Gambar 11. Siklus Hidup dan Gejala Serangan Hama Ganjur

Ulat Grayak (Mythimna separata)
            Ulat grayak merupakan hama padi yang ditemui diberbagai Negara Asia, Afrika dan Amerika latin. Ulat grayak yang menyerang pertanaman padi termasuk genus Mythima, family Noctuidae, ordo Lepidoptera. Serangan dapat terjadi sejak tanaman padi muda sampai padi akan di panen. Hama ini memakan bagian daun padi. Bila serangannya berat, hanya tinggal tulang daunnya saja. Pada stadia tanaman bermalai, ulat ini dapat memotong malai. Penurunan hasil panen karena serangan hama ini dapat mencapai 17 %. Hama ini tertarik pada tanaman yang dipupuk nitrogen dosis tinggi.
            Di Indonesia serangan ulat grayak ditemui hampir di emua provinsi. Luas padi terserang sejak tahun 1997 sampai tahun 2006 rerata 10.993 ha dengan kisaran serangan terendah tahun 2004 seluas 6.927 ha dan tertinggi tahun 2006 seluas 20.573 ha. Di Indonesia terdapat 3 jenis Mythimna yaitu M. separata, M.loreyi dan M.Venelba. Yang banyak dijumpai dilapangan yaitu M. separate dan M.loreyi. Serangga ini termasuk family Noctuidae yang aktif pada malam hari, pada siang hari larvanya berada pada pangkal tanaman dan pada malam hari makan daun padi. Serangga dewasa pada malam hari tertarik sainar lampu.
1.    Klasifikasi
Kingdom         : Animalia
Filum                           : Arthropoda
Kelas               : Insekta
Ordo               : Lepidoptera
Famili              : Noctuidae
Genus              : Mythimna
Spesies            : M. separata
Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\2015-12-11-10-02-17-177481335.jpeg Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\2015-12-11-10-02-27--1054132484.jpeg
Gambar 12. Larva dan Imago Ulat Grayak
2.    Biologi dan Morfologi
Telur
            Telur diletakkan secara berkelompok pada helaian daun dan pelepah daun ditutupi seperti rambut berwarna terang. Telur yang individual berbentuk bulat spherical berukuran 0.6 – 0.7 mm. Ketika telur baru diletakkan berwarna putih selanjutnya berwarna kekuningan dan jika akan menetas berwrna cokelta gelap. Periode inkubasi telur 3 – 7 hari.
Larva
            Larva yang baru menetas berwarna putih, kepala cokelat kehitaman, berukuran panjamg 1,8 mm dan lebar 0,35 mm. Larva terdiri dari 5 – 6 instar, periode setiap instar berturut – turut 3 : 3 : 4 : 4 dan 5 hari. Larva muda memakan helaian daun padi yang masih muda, hingga daun yang diserang tinggal kerangkanya. Larva lanjut memakan daun dengan memotong daun padi, sehingga menyebabkan daun berlubang. Jika serangan berat, maka malai akan dipotongnya. Larva instar akhhir berukuran panjang 30 – 35 mm dan lebar 6 – 6,5 mm. Periode larva sekitar 21 – 28 hari. Larva instar lanjut akan menuju ke pangkal tanaman atau tanah di sekitar tanaman untuk siap manjadi prapupa. Ciri – ciri larva M. separata, larva muda berwarna hijau terang sampai agak gelap dengan garis lateral yang sempit. Sedang larva lanjut berwarna kelabu terang sampai gelap dengan garis lateral yang jelas sepanjang tubuhnya, panjangnya sampai 4,5 cm. Larva M. loyeli, berwarna cokelat keabuan atau hijau dengan garis longitudinal
Pupa
            Pupa pada pangkal tanaman atau tanah di sekitar tanaman padi, berwarna cokelat dan berukuran panjang 15 – 19 mm dan lebar 5 – 6 mm. Saat akan menjadi ngengat warnanya cokelat gelap. Periode prapupa dan pupa rerata 10 -11 hari.
Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\images-19.jpeg
Gambar 13. Siklus Hidup Serta Gejala Serangan Ulat Gryak

Ngengat / Imago
            Ngengat berwarna kecoklatan pucat ditumbuhi bulu – bulu halus, panjang sekitar 2 – 5 cm. Ngengat makan tetesan embun dan makanan manis lain seperti madu. Melakukan perkawinan 1 -3 hari setelah muncul. Ngengat jantan umumnya lebih pendek dari ngengat betina. Ngengat betina dapat meletakkan telur rerata sampai 220 butir. Ngengat pada malam hari tertarik lampu, pada lampu, pada lampu perangkap, dapat terkumpul sampai 64 ekor semalam. Ciri- cirri Ngengat M. separata berwarna kecoklatan dengan bintik hitam disayap depan, ukurannya lebih besar M. loreyi berwarna kecoklatan dan sayapnya bergaris tipis, ukurannya lebih besar dibanding M. Separata.

Belalang (Locusta migratori)              
            Belalang lebih banyak menyerang bagian daun tanaman sehingga mengakibatkan daun menjadi berlubang atau sebagian daun menjadi berkurang, akibatnya proses fotosintesis menjadi terhambat sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman (Fattah dan Hamkah, 2011).
1.    Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\2015-12-11-10-04-32-43896569.jpegKlasifikasi
Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Insekta
Ordo               : Orthoptera
Famili              : Acridiidae
Genus              : Locusta
Spesies            : Locusta migratori                        Gambar 14. Belalang
2.    Siklus Hidup, Biologi dan Ekologi
Imago / Dewasa
            Belalang merupakan kelas insekta ordo Orthoptera yang memiliki ciri-ciri Antena pendek, pronotum tidak memanjang ke belakang, tarsi beruas 3 buah, femur kaki belakang membesar, ovipositor pendek. Ukuran tubuh betina lebih besar dibandingkan yang jantan. Sebagian besar berwarna abu-abu atau kecoklatan dan beberapa mempunyai warna cerah pada sayap belakang. Mempunyai alat suara berupa membran timpani yang terletak di ruas abdomen pertama. Aktif pada siang hari (Subiyanto, 1991 dalam Budiharsanto, 2006).      Imago betina yang memiliki warna coklat kekuning-kuningan Sementara imago jantan yang memiliki warna kuning mengkilap berkembang lebih cepat dibandingkan dengan betinanya. Lama hidup dewasa adalah 11 hari. Siklus hidup rata-rata 76 hari sehingga dalam setahun dapat menghasilkan empat sampai lima generasi di daerah tropis utamanya Asia Tenggara, sementara di daerah Subtropis serangga ini hanya menghasilkan satu generasi per tahun. Dalam kehidupan dan perkembangan koloni belalang dikenal mengalami tiga fase pertumbuhan populasi yaitu fase soliter, fase transien, dan fase gregaria.Pada fase soliter, belalang hidup sendiri-sendiri dan tidak menimbulkan kerugian atau kerusakan tanaman. Pada fase gregaria belalang hidup bergerombol dalam kelompok-kelompok besar, berpindah-pindah tempat dan menimbulkan kerusakan tanaman secara besar-besaran pula (Surtikanti, 2008).
            Apabila belalang menjadi berkelompok akan terjadi perubahan warna dari warna hijau dan berubah menjadi warna hitam dan kuning, badan juga berubah menjadi lebih pendek, dan belalang ini akan menghasilkan hormon yang menyebabkan berkumpul dalam suatu kawasan dan menggalakkan pembentukan kawanan, Kawanan belalang inilah yang dapat menghabiskan daun – daun tanaman sehingga tinggal tulang-tulang daun saja.
Telur
            Seekor betina mampu menghasilkan telur sekitar 270 butir. Telur ini berwarna keputih-putihan dan berbentuk buah pisang, tersusun rapi dalam tanah pada kedalaman sekitar 10 cm. Belalang betina siap meletakkan telur setelah lima sampai 20 hari bergantung temperatur. Seekor betina mampu menghasilkan enam sampai tujuh kantong telur dalam tanah dengan jumlah 40 butir per kantong. Imago betina hanya membutuhkan satu kali kawin untuk meletakkan telur-telurnya dalam kantong-kantong.
Nimfa
            Nimfa mengalami lima kali ganti kulit (lima instar) dengan stadium nimfa terjadi  selama 38 hari.
Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\images-8.jpeg
Gambar 15. Siklus Hidup Belalang
Walang Sangit (Leptocorisa spp)
            Walang sangit selain menyerang tananamn padi yang sudah bermalai dapat pula berkembang pada rumput-rumputan seperti Panicium crusgalli L., Paspalum dilatatum Scop., rumput teki (Echinocloa crusgalli dan E. colonum). Hasegawa (1971) telah mengidentifikasi ada 14 spesies hama walang sangit di Indonesia, namun yang dominan adalah L. orotarius dan L. acuta.
1.        Leptocorisa oratorius (Fabricius). Spesies ini banyak ditemukan di Asia Tenggara, sangat mirip dengan L.acuta dan L. chinensis sehingga sering menimbulkan salah identifikasi. Panjang badan berkisar antara 18,0 – 18,5 mm. Perbedaan tampak jelas pada adanya titik berwarna kecoklatan pada abdomen bagian ventral – lateral. Hama ini tersebar di India, Sri Langka,Kepulauan Nicobar, Pakistan, Bhutan, Brunei, Vietnam, Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand, China, Filipina dan Solomon.
2.        Leptocorisa acuta (Thunberg) = L. varicornis F. spesies ini juga banyak ditemukan dan merupakan hama yang cukup penting di Asia Timur . Ukuran badan relatif kecil dibandingkan dengan spesies pertama. Panjang badan berkisar antara 15 – 16 mm. Penyebaran : India, Burma, Bhutan, Vietnam, Thailand, Malaysia, Brunei, Indonesia, Hongkong, Cina, Formosa, Singapura, Ryukyu, Filipina, Inggris, Irlandia, Australia, Solomon dan Kepulauan Samoa.
3.        Leptocorisa chinensis (Dallas) = L. Nitidula breddin ; L. Corbeti cina. Spesies ini dilaporkan sebagai hama penting tanaman padi di Malysia, Cina dan Jepang serta kadang juga ditemukan dipertanaman jagung dan kedelai. Panjang badan berkisar 17,3 – 17,8 mm. Dapat dibedakan dengan spesies lain dengan adanya spot hitam kecoklatan pada sisi kepala dan pronotum. Penyebaran : Bhutan, Malaysia, Vietnam, Indonesia, Cina, Jepang, Filipina, dan Kepulauan Bonin.
4.        Leptocorisa bigutaa walker. Spesies ini umumnya terdapat di padi gogo di Serawak, ditemukan pada tanaman Panicum sp diserawak, sabah dan Brunei. panjang badan berkisar 16 – 17 mm.
5.        Leptocorisa tegalica Ahmad = L. geniculata cina. Panjang badan 17 – 17,5 mm. Penyebaran: Malaysia, Indonesia, Kepulauan Halmahera dan Filipina.
6.        Leptocorisa lozunica Ahmad. Spesies ini kadang – kadang ditemukan pada pertenaman padi, namun pada umumnya pada pertanaman Isachne globs Thunberg dan rerumputan di Serawak. Panjang bdadan 11,3 – 11,5 mm. Penyebaran : Vietnam, Malaysia, Filipina.
7.        Leptocorisa pseudolepida Ahmad. Hampir mirip dengan L.Lozunica. Ukuran panjang badan 11,5 – 12,0 mm. Penyebarannya: Malaysia, Brunei, India Sri Langka dan Indonesia.
8.        Leptocorisa cortalis (Herrich-Schatter). Spesies ini ditemukan di pertanaman padi dan jagung. Sangat mirip dengan L. bigutata, hanya dapat diibedakan dengan warna ujung antenna. Panjang badan berkisar 14,7 – 15,2 mm. Penyebarann : Indonesia, Vietnam, Brunei, Thailand, Singapura dan Filipina.
9.        Leptocorisa ayamaruensis Doesberg dan Siwi. Spesies ini ditemukan di irian Jaya.
10.    Leptocorisa discoidalis Walker. Ditemukan di Maluku dan Irian Jaya.
11.    Laptocorisa sapdapolahae Ahmad. Ditemukan di Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Maluku
12.    Leptocorisa solomonensis Ahmad. Ditemukan di Maluku dan Irian Jaya.
13.    Leptocorisa timorensis Doesberg dan Siwi. Ditemukan di Timor.
1.    Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\2015-12-11-10-06-19--446377204.jpegKlasifikasi
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Arthropoda
Kelas               : Insecta
Ordo               : Hemiptera
Famili              : Alydidae
Genus              : Leptocorixa
Spesies            : Leptocorixa Acuta                   Gambar 16. Walang Sangit
2.    Bioekologi dan Morfologi 
            Walang sangit (L. acuta) mengalami metamorfosis sederhana yang perkembangannya dimulai dari stadia telur, nimfa dan imago. Imago berbentuk seperti kepik, bertubuh ramping, antena dan tungkai relatif panjang. Warna tubuh hijau kuning kecoklatan dan panjangnya berkisar antara 15 – 30 mm (Harahap dan Tjahyono, 1997). 
Telur
            Telur berbentuk oval dan pipih, seperti cakram berwarna merah coklat gelap dan diletakkan secara berkelompok. Kelompok telur biasanya terdiri dari 10 - 20 butir. Telur-telur tersebut biasanya diletakkan pada permukaan atas daun di dekat ibu tulang daun. Peletakan telur umumnya dilakukan pada saat padi berbunga. Telur akan menetas 5 – 8 hari setelah diletakkan. Perkembangan dari telur sampai imago adalah 25 hari dan satu generasi mencapai 46 hari (Baehaki, 1992).
Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\Dup(01)images-15.jpegDescription: C:\Users\725\Pictures\foto 10\Dup(01)images-13.jpeg
G
Gambar 17. Telur dan Imago Walang Sangit
Nimfa
            Nimfa berwarna kekuningan, kadang-kadang nimfa tidak terlihat karena warnanya sama dengan warna daun. Stadium nimfa 17 – 27 hari yang terdiri dari 5 instar (Harahap dan Tjahyono, 1997).
Imago / Dewasa
            Imago walang sangit yang hidup pada tanaman padi, bagian ventral abdomennya berwarna coklat kekuning-kuningan dan yang hidup pada rerumputan bagian ventral abdomennya berwarna hijau keputihan. Bertelur pada permukaan daun bagian atas padi dan rumput-rumputan lainnya secara kelompok dalam satu sampai dua baris (Rismunandar, 2003).
            Aktif menyerang pada pagi dan sore hari, sedangkan di siang hari berlindung di bawah pohon yang lembab dan dingin (Baehaki, 1992).
Nimfa dan imago mengisap bulir padi pada fase masak susu, selain itu dapat juga mengisap cairan batang padi. Malai yang diisap menjadi hampa dan berwarna coklat kehitaman. Walang sangit mengisap cairan bilir padi dengan cara menusukkan styletnya. Nimfa lebih aktif daripada imago, tapi imago dapat merusak lebih banyak karena hidupnya lebih lama. Hilangnya cairan biji menyebabkan biji padi mengecil jika cairan dalam bilir tidak dihabiskan. Dalam keadaan tidak ada bulir yang matang susu, maka dapat menyerang bulir padi yang mulai mengeras, sehingga pada saat stylet ditusukkan mengeluarkan enzim yang dapat mencerna karbohidrat.

Hama Putih (Nymphula depunctalis)
            Hama putih menyerang tanaman muda dan fase vegetatif. Bagian tanaman yang diserang daun. Stadia serangga yang merusak yaitu stadia larva. Gejala serangan hampir sama dengan hama putih palsu, yaitu adanya bagian daun yang berwarna putih memanjang sejajar dengan tulang daun. Bedanya hama putih akan memotong daun sepanjang 2 – 4 cm kemudian menggulunginya dan larva sembunyi dalam gulunngan tersebut. Gulungan daun yang berisi larva dapat menempel pada daun padi atau mengapung  di atas permukaan air. Larva makan dari dalam gulungan daun setelah gulungan yang berisi larva dapat menempel pada daun dan larva mengeluarkan kepala dari thorak untuk makan. Perpindahan larva sangat dibantu adanya genangan air pada petakan sawah. Hama putih ditemui di areal berbagai pertanaman padi di Indonesia, jawa, sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Irian.
1.    Klasifikasi
Kingdom         : Animalia
Filum                           : Arthropoda
Kelas               : Insekta
Ordo               : Lepidoptera
Famili              : Pyralidae
Genus              : Nymphula
Spesies            : Nymphula depunctalis
Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\2015-12-11-10-18-02--983574376.jpeg Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\Dup(01)images-27.jpeg
G
g

Gambar 18. Ngengat Hama Putih
2.    Biologi dan Morfologi
Ngengat / Imago
            Ngengat berwarna putih, panjang badan 6 mm dan rentang sayap 15 mm. Negengat besifat nocturnal dan fototropis kuat. Ngengat mampu hidup 4 – 8 hari.
Telur
            Induk betina dapat menghasilkan telur sampai 50 butir. Kelompok telur diletakkan pada bagian bawah daun yang telah mengambang di atas permukaan air, jarang sekali pada daun yang masih tegak. Satu kelompok telur terdiri 10 – 12 butir. Hama ini hanya suka meletakkan telur pada daun dari tanaman muda, sangat jarang ditemukan serangan hama putih pada tanaman yang telah berumur lewat 40 hari. Lama periode telur 2 – 6 hari.  Telur berbentuk pipih tidak teratur, berwarna kuning muda dan berubah menjadi tua pada waktu akan menetas.
Larva
            Larva yang baru menetas berwarna krem pucat dengan kepala berwarna kuning muda dan kemudian larva yang sudah berkembang penuh berwarna hijau pucat. Panjangnya 20 mm.  Lama periode larva 14 – 20 hari, selama periode larva lima instar, larva instar kelima mempunyai panjang 14 mm. Selama hidupnya larva berada dalam kantong bumbung yang dibuat dari potongan daun. Larva bersifat akuatik dan aktif pada malam hari dimana larva dalam gulungan daun naik ke pertanaman dan makan.
Pupa
            Stadia pupa sekitar 6 – 8 hari dan siklus hidupnya 30 -35 hari.  Tipe pupa obtekta atau bebas berwarna krem.
Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\Dup(01)images-25.jpegDescription: C:\Users\725\Pictures\foto 10\2015-12-11-10-17-51-1011464422.jpeg
Gambar 19. Telur, Larva, Pupa dan Ngengat Hama Putih
Hama Putih Palsu (Chanophalocrosis medinalis)
            Hama ini termasuk family pyralidae, ordo Lepidoptera. Hanya stadia larva yang bertindak sebagai hama, menyerang pertanaman padi sawah, gogo dan gogo rancah. Sejak persemaian sampai panen. Bagian tanaman padi yang diserang adalah daun, menyebabkan bagian daun yang terserang berwarna putih transparan memanjang sejajar tulang daun karena zat hijau daun dimakan dan hanya disisakan kulit epidermis bagian atas.
            Larva makan dan merusak daun, sehingga berpengaruh terhadap fotosintesis pada daun yang tidak diserang. Disamping itu daun padi digulung ke bagian atas dan tepi daun direkatkan dengan benang – benang yang dihasilkan oleh larva. Larva tinggal dalam gulungan daun tersebut dan makan di dalamnya.
1.    Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\2015-12-11-10-15-02-769507999.jpegKlasifikasi
Kingdom         : Animalia
Filum                           : Arthropoda
Kelas               : Insekta
Ordo               : Lepidoptera
Famili              : Pyralidae
Genus              : Chanophalocrosis
Spesies            : Chanophalocrosis medinalis  Gambar 20. Hama Putih Palsu
2.    Biologi dan Morfologi
Ngengat / Imago
            Serangga dewasa (Ngengat) berwarna cokelat muda dengan garis hitam pada sayap. Panjang rentang sayap 13 – 15 mm, sedangkan panjang badan 10 – 12 butir per kelompok.  Sayap berwarna kuning kecoklatan dan mengilap dengan garis gelap yang lebar, juga terdapat 2 – 3 garis vertikal. Ngengat hidup selama 10 hari.
Telur
            Telur berbentuk pipih lonjong berwarna terang yang akan berubah menjadi krem pada waktu akan menetas. Satu ekor ngengat dapat menghasilkan telur sampai 300 butir. Lama periode telur 4 – 6 hari.
Larva
Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\2015-12-11-10-15-08--1387086868.jpeg            Larva yang baru menetas berwarna putih kehijauan dengan panjang 1.5 – 2 mm dan lebar 0,2  - 0,3 mm dan kepala berwarna coklat muda. Setelah berkembang penuh larva berwarna hijau kekuningan dan kepalanya coklat hitam. Lama periode larva sekitar 15 – 16 hari, selama stadia larva terjadi lima kali pergantian kulit sebelum menjadi pupa. Panjang larva instar ke enam 20 – 25 mm dengan lebar 1,55 – 2 mm.
                                                         Gambar 21. Larva Hama Putih Palsu
Pupa
            Pupa berwarna kuning muda dan akan menjadi coklat menjelang munculnya ngengat. Pupa terbungkus kokon dari benang sutra berwarna kuning dan berada didalam gulungan daun padi yang dilipat oleh larva. lama periode pupa 4 - 8 hari.
Keong Mas (Pomacea canaliculata)
1.    Klasifikasi
Kingdom         : Animalia
Filum               : Molusca
Kelas               : Gastropoda
Ordo               : Mesogastropoda
Famili              : Ampullariidae
Genus              : Pomacea
Spesies            : Pomacea canaliculata
2.    Biologi dan Morfologi
Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\Dup(01)images-23.jpeg Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\Dup(01)images-20.jpeg
Gambar 22. Morfologi dan Siklus Hidup Keong Mas
Dewasa
            Bentuk cangkang keong mas hampir mirip dengan siput sawah yang disebut gondang, bedanya cangkang keong mas berwarna kuning keemasan hingga coklat transparan serta lebih tipis. Dagingnya lembut berwarna krem keputihan sampai merah keemasan atau oranye kekuningan, besarnya kurang lebih 10 cm dengan diameter cangkang 4-5 cm. cangkangnya berbentuk bulat mencapai tinggi lebih dari 10 cm, dengan berat 10 – 20 gram, berwarna kekuningan. Pada mulut cangkang keong mas terdapat operculum yang bentuknya bulat berwarna coklat kehitaman pada baian luarnya dan coklat kekuningan pada bagian dalamnya. Pada bagian kepala terdapat dua buah tentakel sepasang terletak dekat dengan mata lebih panjang dari pada dekat mulut. Kaki lebar berbentuk segitiga dan mengecil pada bagian belakangnya, mereka dapat hidup pada perairan yang deras dengan komponen utama tumbuhan air dan bangkai.
Telur
            Keong ini termasuk hewan berjenis kelamin tunggal. Perkawinan keong mas dapat dilakukan sepanjang musim. Seekor keong mas mampu memproduksi sekitar 1000 – 1.200 butir telur tiap bulan atau 200 – 300 butir per minggu. Telur keong mas berwarna merah jambu, diletakkan pada malam hari, diletakkan pada malam haru secara berkelompok di rumpun padi dekat pematang sawah ataupun  ranting. Bertelur di tempat yang kering 10-13 cm dari permukaan air, kelompok telur memanjang dengan warna merah jambu seperti buah murbai karena itu disebut siput murbai, panjang kelompok telur 3 cm lebih, lebarnya 1-3 cm, dalam kelompok besarnya 4,5-7,7 mg ukuranya 2,0 mm (Balai Informasi Pertanian, 1990/1991). Telur menetas setelah 7 – 14 hari.
            Keong mas muda yang baru menetas berukuran 1,7 – 2,2 mm langsung meninggalkan cangkang telur dan masuk ke dalam air. Dua hari kemudian cangkang keong tersebut sudah menjadi keras. Keong mas muda berukuran 2 – 5 mm memakan alga dan bagian tanaman yang lunak. Pertumbuhan awal berlangsung selama  15 – 25 hari. Pada umur 26 – 29 hari keong mas sangat rakus dalam mengkonsumsi makanan. Periode berkembang biaknya sangat panjang, mulai umur 60 hari sejak menetas sampai umur tiga tahun. Keong mas memerlukan waktu sekitar 3 – 4 jam pada saat melakukan perkawinan di daerah senantiasa mendapatkan air sepanjang tahun. Apabila sawah dikeringkan maka keong mas akan menyusup ke dalam tanah hingga kedalaman 30 cm dan melakukan dipause. Setelah sawah digenangi maka keong mas akan bermunculan ke permukaan tanah. Keong mas dapat bertahan dalam tanah tanpa makan untuk jangka waktu sampai enam bulan.

Kepiding Tanah (Scotinophara choarctata)
            Hama kepiding tanah merupakan salah satu hama potensial pada tanaman pada padi. Kepiding tanah, Scotinophara coarctata termasuk famili Pentatomidae, Ordo Hemiptera. Populasi dan serangannya relatif kecil tetapi selalu ada sepanjnag waktu di berbagai daerah di Indonesia. Kepiding aanah juga bisa menjadi hama utama tanaman padi di daerah – daerah sawah lebak atau sawah pasang surut yang konsidinya selalu tergenang air, dengan kelembaban tinggi, telebih pada musim hujan. Hama ini menyukai tanaman yang dipupuk nitrogen dosis tinggi. Matteson (2000) mengemukakan bahwa pola iklim yang tidak normal menyebabkan terjadinya migrasi serangga ini, sehingga menyebabkan outbreak. Serangga dewasa dapat migrasi ke tempat yang jauh pada malam hari tertarik lampu dan mengeluarkan bau tidak sedap jika diganggu. Serangan kepiding tanah sejak tahun 1997 sampai 2006 berkisar antara 2.775 ha dan tertinggi seluas 19.047 ha pada tahun 1998, rerata luas serangan selama sepuluh tahun yaitu 6.162 ha.
            Serangga kepiding tanah termasuk jenis kepik berwarna hitam kusam dengan panjang 7- 10 mm dan lebar 4 mm. Tanaman inang terdiri dari padi, jagung dan tumbuh – tumbuhan golongan rumput – rumputan (graminae). Semua stadia tanaman sejak bibit, stadia vegetatif, berbunga dan bermalai diserangnya. Serangga ini menghisap cairan tanaman pada bagian batang padi, sehingga dalam populasi yang tinggi menyebabkan tanaman menjadi kuning atau merah kecoklatan, akhirnya layu dan mati yang disebut dengan terbakar (bug burn). Kepadatan populasi kepiding tanah sangat berpengaruh terhadap besarnya serangan hama tersebut pada tanaman padi. Infestasi awal kepiding tanah pada tanaman yang lebih muda menimbulkan kerusakan tinggi. Semakin awal infestasi semakin berkurang produksi yang dihasilkan. Penurunan hasil padi pada infestasi stadia anakan (30 HST) pada kepadatan 25 – 75 ekor per rumpun hasilnya akan berkurang antara 51 – 71 %. Sedang jika infestasi pada stadia tanaman generatif, pada kepadatan 25 – 75 ekor per rumpun hasilnya akan berkurang antara 37 – 48 %. Pada serangan berat dapat menurunkan hasil 60 sampai 80 %.
1.    Klasifikasi
Kingdom         : Animalia
Filum                           : Arthropoda
Kelas               : Insekta
Ordo               : Hemiptera
Famili              : Pentatomidae
Genus              : Scotinophara
Spesies            : Scotinophara choarctata
Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\2015-12-11-10-25-55-177481335.jpegDescription: C:\Users\725\Pictures\foto 10\Dup(01)images-31.jpeg
Gambar 23. Kepiding Tanah dan Gejala Serangannya
2.    Biologi dan Morfologi
Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\Dup(01)images-34.jpeg            Siklus hidup kepiding tanah berkisar antara 33 – 41 hari. Telur menetas setelah umur 7 hari. Betina bertelur pada 12 – 17 hari setelah kawin. Telur diletakkan pada batanng padi bagian bawah secara berkelompok sebanyak 30 butir per kelompok, Jumlah telur yang diletakkan sampai 200 butir. Nimfanya melewati masa 5 instar selama sekitar 6 minggu. Nimfa berwarna cokelat kekuningan dengan bintik hitam dan tinggal pada pangkal tanaman pada siang hari dan makan dengan menghisap tanaman pada malam hari. Serangga dewasa bisa hidup selama 7 bulan, dengan demikian bisa hidup pada dua musim tanam padi melalui masa istirahat dan bersembunyi pada rerumputan yang kondisinya basah atau lembab.
            Perkembangan populasi kepiding tanah pada tanaman padi sawah diawali dengan munculnya serangga dewasa pada saat tanaman umur 2 – 3 minggu setelah tanam. Populasi tinggi pada musim hujan yang merupakan populasi migrasi yang berasal dari rerumputan atau gulma yang tumbuh di daerah absah atau lembab atau dari tanaman padi yang sudah dipanen apabila pola tanamnya tidak serempak. Populasi meningkat sejalan dengan perkembangan tanaman padi, sehingga puncak populasi kepiding tanah pada tanaman padi akan dicapai pada saat menjelang panen. Kepiding tanah mempunyai musuh alami berupa parasitoid, predator dan patogen serangga. Jenis musuh alami yang sering dijumpai yaitu parasitoid telenomus sp. dan oxyopes sp dan patogen serangga yaitu beauveria bassiana dan metarrhizium anisopliae.

Anjing Tanah (Gryllotalpa hilsuta)
            Anjing tanah atau orong –orong merupakan salah satu hama potensial pada tanaman padi di lahan kering atau sawah pasang surut. Anjing tanah, termasuk famili gryllotalpidae, ordo orthoptera, populasi dan serangannya relatif kecil tetapi sering menjadi masalah bagi tanaman padi di lahan yang tidak tergenang seperti lahan kering (padi gogo) atau di lahan sawah pasang surut, di Sumatera. Kalimantan, dan Jawa. Di Lampung pada cabe yang ditanam sebagai tanaman sela di antara perkebunan kelapa, anjing tanah merupakan hama yang perlu diwaspadai. Tungkai depan hama ini besar, digunakan untuk menggali tanah. Anjing tanah termasuk serangga polyphagous yang memangsa berbagai jenis tanaman terutama jenis serealia. Bagian tanaman yang diserang yaitu benih, akar dan batang pada permukaan tanah. Hama ini merusak semua fase pertumbuhan dengan cara memotong tanaman pada bagian pangkal batang di bawah tanah dan bagian akar muda, sehingga menyebabkan batang menjadi putus dan busuk (mati). Secara sepintas gejala serangan seringkali keliru dengan gejala serangan penggerek batang padi. Terowongan anjing tanah tampak seperti bekas galian tanah.
1.    Klasifikasi
Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\images-28.jpegKingdom         : Animalia
Filum                           : Arthropoda
Kelas               : Insekta
Ordo               : Orthoptera
Famili              : Gryllotalpidae
Genus              : Gryllotalpa                          
Spesies            : Gryllotalpa hilsuta
2.    Biologi dan Morfologi
            Serangga anjing tanah hidup dibawah/ di dalam tanah berwarna kuning kecoklatan dengan panjang 39 – 47 mm. Telur berukuran panjang 2,5 mm diletakkan dalam lubang di bawah tanah. Seekor betina dapat meletakkan telur sekitar 36 – 47 butir. Nimfa muda hidup bersama induk jantan sampai instar – 2 dan makan dari humas serta akar tanaman muda. Betina umumnya bersayap pendek dan bersuara keras selama 15 – 20 menit pada sore dan malam hari, bertelur pada 12 -17 hari setelah kawin. Serangga ini mempunyai musuh alami berupa parasitoid, predator dan patogen serangga. Jneis aptogen serangga beauveria bassiana dapat menginfeksi sekitar 38 – 66 %.
            Anjing tanah membuat terowongan panjang di bawah permukaan tanah dan menyukai kondisi tanah yang lembab atau basah. Tempat hidup biasanya di pinggir jalan , Pinggir saluran, lahan surjan dan kebun – kebun. makanannya terdiri atas bagian tumbuhan seperti akar dan batang bagian bawah dan hewan – hewan yang hidup di dalam tanah. Namun demikian, berdasarkan informasi umum bahwa keuntungan sebagai predator lebih kecil daripada kerugian sebagai hama merusak tanaman.
Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\Dup(01)images-47.jpeg
Gambar 24. Morfologi Anjing Tanah
Tikus Sawah (Rattus argentiventer)
1.    Klasifikasi Tikus Sawah
            Menurut storer dan usinger dalam Balantek, maka klasifiikasii tikus sawah adalah sebagai berikut :
Kingdom    : Animalia
Filum          : Chordata
sub filum    : Crainata
super kelas : Tetrapoda
Kelas          : Mammalia
Ordo           : Rodentia
Famili         : Muridae
Genus         : Rattus
Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\2015-12-11-10-38-21-43896569.jpegSpesies       : Rattus argentiventer





Gambar 25. Tikus Sawah
2.    Jenis – Jenis Tikus
            Di Indonesia terdapat sekitar 150 jenis tikus. Beberapa penelitian mengungkapkan dari beberapa jenis yang empunyai peranan penting dalam kehidupan manusia antara lain adalah Bandicota indica, Rattus novergicus, Rattus argetiventer, Rattus rattus diardi, Rattus exulants, Mus musculus dan Mus caroli.
            Jenis – jenis tikus penting yang banyak menimbulkan kerusakan pada pertanaman pertanian adalah R. argentiventer, R. exulants, R. r.diardi dan R. novergicus.     
            R. exulants adalah tikus yang merusak pertanaman khususnya padi yang masih di pertanaman. Sedangkan R. r. diardi dan R. norvergicus terutama merusak hasil pertanian yang berasa di tempat penyimpanan.
            R. argentiventer (tikus sawah) merupakan tikus yang paling banyak dijumpai. Sebagian besar kerusakan tanaman padi di sawah disebabkan oleh tikus ini. R. argentiventer merupakan hama utama tanaman padi pada sebagian besar Negara-negara di Asia Tenggara.
3. Biologi dan Morfologi Tikus Sawah
            Ciri – cirri tikus sawah dapat dikenal yaitu dari susunan giginya, sepasang gigi seri pada rahang bagian depan berfungsi sebagai pengerat, di belakangnya terdapat celah tanpa gigi taring dan premolar (diastema). Paling belakang terdapat tiga pasang geraham.
            Warna bulu bagian atas coklat gelap bagian bawah atau perut krelabu. Telinga tidak berambut dan ekor bersisik. Panjang ekor biasanya lebih pendek atau hampir sama dengan panjang kepala dan badan. Panjang tikus dewasa dari ujung sampai ke ujung ekor berkisar antara 270 – 370 mm. Panjang ekor rata – rata 85 % dari panjang badan dan kepala. Panjang ekor dikukur dari ujung sampai pangkal, sedangkan badan dan kepala diukur dari pangkal ekor sampai ke ujung hidung. Panjang telinga 18 – 21 mm. Panjang telapak kaki belakang diukur dari tumit sampai ujung kuku jari – jari yang  terpanjang adalah berkisar antara 32 – 39 mm. Jumlah putting susu tikus betina 12 buah, 3 pasang di dada dan 3 pasang di perut. Tekstur rambutnya agak kasar.
            Kaki depan masing – masing berjari empat dan kaki belakang berjari lima. Pada telapak kaki belakang terdapat tiga pasang kuku kepalan dua diantaranya terlihat jelas dan yang satu bagian belahan belakang rudimeter. Berat tikus dewasa berkisar antara 70 – 230 gram.
            Tikus sawah (R. argentiventer Rob. & kloss) merupakan kelompok binatang yang sangat aktif pada malam hari. Untuk mengimbangi kegiatan ini diperlukan penyediaan kalori yaitu makanan yang cukup. Tikus meninggalkan lubangnya pada sore hari untuk mencari makanan dengan menempuh jarak sejauh 800 – 1000 meter. Pulang melalui jalan yang sama.
            Tikus mempunyai gigi seri yang sangat tajam dan tumbuh terus selama hidupnya dan dapat tumbuh mencapai 15 – 25 cm. Salah satu ciri dari tikus sebagai hewan pengerat adalah kemampuannya untuk mengerat benda-benda yang keras dengan maksud untuk mengurangi pertumbuhan gigi serinya yang tumbuh secara terus menerus. Perttumbuhan secara terus menerus tersebut diakibatkan karena tidak adanya penyempitan pada bagian pangkal sehingga terdapat celah yang mengakibatkan pertumbuhan tersu menerus.
            Tikus sawah dapat berkembang biak mulai umur 1,5-5 bulan. Setelah kawin, masa bunting memerlukan waktu 21 hari. Seekor tikus betina melahirkan rata-rata 8 ekor anak setiap kali melahirkan, dan mampu kawin lagi dalam tempo 48 jam setelah melahirkan serta mampu hamil sambil menyusui dalam waktu yang bersamaan. Selama satu tahun seekor betina dapat melahirkan 4 kali, sehingga dalam satu tahun dapat dilahirkan 32 ekor anak, dan populasi dari satu pasang tikus tersebut dapat mencapai + 1200 ekor turunan.
            Anak yang baru lahir beratnya sekitar 2-4 g, berwama merah daging dan tidak berbulu. Setelah umur 4 hari wamanya berubah menjadi biru kelabu dan pada umur 7- 10 hari tumbuh bulu berwama kelabu dan coklat, saat ini mata masih tertutup. Mata anak tikus terbuka setelah umur 12-14 hari dan masa menyusui berlangsung sampai umur 18-24 hari. Pada umur 28 hari anak tikus telah dapat berjalan dengan cepat.
Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\2015-12-11-10-40-18-362055136.jpeg Description: C:\Users\725\Pictures\foto 10\2015-12-11-10-38-41--446377204.jpeg
Gambar 26. Tikus Yang Baru Lahir dan Tikus Dewasa
Hama Lundi ()