PENDAHULUAN
Kebutuhan komoditas pertanian terus bertambah seiring
dengan meningkatnya permintaan pasar dan konsumsi masyarakat. Upaya untuk
meningkatkan produksi komoditas pertanian dapat ditempuh melalui perluasan
lahan dan peningkatan produktivitas. Namun, upaya tersebut menghadapi
masalah. Masalah ini perlu diupayakan pemecahannya, antara lain dengan menanam
varietas yang toleran. Teknik bioteknologi dapat dimanfaatkan dalam perakitan
varietas toleran cekaman biotik, seperti kekeringan, keracunan Al, dan cekaman
abiotik lainnya. Pada saat ini sangat sulit mencari sumber gen ketahanan
terhadap cekaman abiotik dari tanaman yang sejenis. Untuk meningkatkan
keragaman genetik pada tanaman yang bernilai ekonomis tinggi dapat memanfaatkan
teknik variasi somaklonal dan induksi mutasi. Perubahan sifat genetik yang
dihasilkan dengan metode ini sangat beragam. Untuk mengarahkan perubahan sifat
ke arah yang diinginkan dapat digunakan metode seleksi in vitro. Dalam
makalah ini akan dibahas perakitan varietas tanaman toleran terhadap cekaman
biotik dengan memanfaatkan teknik bioteknologi tersebut.
Variasi somaklonal adalah variasi terlihat pada tanaman
yang telah dihasilkan oleh jaringan tanaman budidaya. Variasi somaklonal adalah keragaman genetik
yang dihasilkan melalui kultur jaringan. Variasi somaklonal pertama kali
ditemukan oleh Larkin dan Scowcorf (1989), yang mendefinisikan sebagai
keragaman genetik dari tanaman yang dihasilkan melalui kultur sel, baik sel
somatik seperti sel daun, akar, dan batang, maupun sel gamet.
Variasi somaklonal yang terjadi dalam kultur jaringan merupakan hasil
kumulatif dari mutasi genetik pada eksplan dan yang diinduksi pada kondisi in
vitro. Variasi somaklonal merupakan perubahan genetik yang bukan disebabkan
oleh segregasi atau rekombinasi gen, seperti yang biasa terjadi akibat proses
persilangan.
Variasi somaklonal tergantung dari variasi alami yang
terkandung di dalam kumpulan sel, baik genetik ataupun epigenetik yang dapat
diamati pada planlet yang telah mengalami regenerasi. Keuntungan utama dari
variasi somaklonal adalah meningkatkan pengadaptasian variabilitas genetik,
membentuk tanaman yang berguna dari segi agronomi, tanpa proses hibridisasi.
Variasi ini akan berguna jika seleksi in vitro dimungkinkan terjadi atau metode
pemeriksaan secara cepat yang tepat. Hal ini dapat dipercaya bahwa variasi
somaklonal dapat ditingkatkan selama kultur in vitro untuk beberapa karakter,
seperti resisten terhadap penyakit, herbisida, dan toleransi terhadap
lingkungan dan stress terhadap bahan kimia.
TINJAUAN
PUSTAKA
Variasi
somaklonal pertama kali dikemukakan oleh Larkin dan Scowcroft (1981) dalam Kadir (2007), yang
didefinisikan sebagai keragaman genetik dari tanaman
yang dihasilkan melalui
kultur sel, baik selsomatik seperti sel daun, akar, dan batang,
maupun sel gamet. Skirvin et al. (1993) mendefinisikan
variasi somaklonal sebagai
keragaman genetik tanaman yang
dihasilkan melalui kultur jaringan. Variasi tersebut
dapat berasal dari keragamangenetik eksplan yang digunakan atau yang
terjadi dalam kultur jaringan.
Variasi
somaklonal yang terjadi dalam kultur jaringan merupakan hasil kumulatif dari
mutasi genetik pada eksplan dan yang diinduksi pada kondisi in vitro.
Variasi somaklonal merupakan perubahan genetic yang bukan disebabkan oleh
segregasi atau rekombinasi gen, seperti yang biasa terjadi akibat proses
persilangan. Thrope (1990) menggunakan istilah pre-existing cellular
genetic, yaitu keragaman yang diinduksi oleh kultur jaringan. Keragaman ini
dapat muncul akibat penggandaan dalam kromosom (fusi, endomitosis), perubahan
jumlah kromosom (tagging dan nondisjunction), perubahan struktur
kromosom, perubahan gen, dan perubahan sitoplasma.
Variasi somaklonal dapat dikelompokkan menjadi keragaman
yang diwariskan (heritable), yaitu yang dikendalikan secara genetik, dan
keragaman yang tidak diwariskan, yakni yang dikendalikan secara epigenetik.
Keragaman somaklonal yang dikendalikan secara genetik biasanya bersifat stabil
dan dapat diturunkan secara seksual ke generasi selanjutnya. Keragaman epigenetik
biasanya akan hilang bila diturunkan secara seksual.
Variasi somaklonal dalam kultur jaringan terjadi akibat
penggunaan zat pengatur tumbuh dan tingkat konsentrasinya, lama fase
pertumbuhan kalus, tipe kultur yang digunakan (sel, protoplasma, kalus
jaringan), serta digunakan atau tidaknya media seleksi dalam kultur in vitro.
Zat pengatur tumbuh kelompok auksin 2,4 D dan 2,4,5-T biasanya dapat
menyebabkan terjadinya variasi somaklonal. Pada tanaman kelapa sawit, perlakuan
2,4-D pada kultur kalus yang mampu beregenerasi membentuk tunas menyebabkan
variasi somaklonal saat aklimatisasi di lapangan. Beberapa sifat tanaman dapat
berubah akibat variasi somaklonal, namun sifat lainnya tetap menyerupai
induknya. Dengan demikian, variasi somaklonal sangat memungkinkan untuk
mengubah satu atau beberapa sifat yang diinginkan dengan tetap mempertahankan
karakter unggul lainnya yang sudah dimiliki oleh tanaman induk. Tanaman yang
berasal dari sel-sel yang bermutasi akan membentuk tanaman yang mungkin
merupakan klon baru yang berbeda dengan induknya.
Perbaikan tanaman melalui variasi somaklonal telah banyak
dilakukan, antara lain untuk sifat ketahanan terhadap cekaman biotik dan
abiotik. Cara tersebut bermanfaat bila dapat menambah komponen keragaman
genetik yang tidak ditemukan di alam serta mengubah sifat dari kultivar yang
ada menjadi lebih baik, terutama untuk tanaman yang diperbanyak secara
vegetatif atau menyerbuk sendiri.
Dapat dikatakan bahwa variasi somaklonal telah berhasil
memperbaiki sifat produksi beberapa tanaman seperti tomat, tebu, seledri,
jagung, padi, dan sorgum Tetapi juga harus dikatakan tentang ketidaksuksesan
beberapa percobaan dengan pendekatan ini, misalnya pada tanaman gandum, jagung,
dan barley meskipun diusahakan dengan skala yang besar dan ekstensif
(Maralappanavaret al., 2000). Meskipun hasil (regeneran) dari variasi
somaklonal tidak dapat diprediksi, beberapa kelebihannya dibandingkan dengan
alat (teknik) lainnya adalah:
1) Lebih murah dibandingkan dengan pendekatan
bioteknologi dengan hibridisasi somatik dan transformasi genetik.
2) Sistem
kultur jaringan dapat menggunakan lebih banyak spesies tanaman daripada
manipulasi dengan hibridisasi somatik dan transformasi genetik.
3) Tidak
perlu identifikasi sifat (trait) berdasarkan sifat genetik dibanding de-ngan
transformasi yang memerlukan identifikasi genetik untuk isolasi dan kloning gen
dimaksud.
4) Dilaporkan varian-varian noveltis telah
ba-nyak dihasilkan di antara somaklon yang dihasilkan variasi somaklonal. Bukti
genetik dan sitogenetik mengindikasikan bahwa frekuensi dan distribusi
terjadinya rekombinasi genetik dapat diubah dengan jalan lintas melatui kultur
jaringan.
Beberapa sifat tanaman dapat berubah akibat
variasi somaklonal, namun sifat lainnya tetap menyerupai induknya. Dengan
demikian, variasi somaklonal sangat memungkinkan untuk mengubah satu atau
beberapa sifat yang diinginkan dengan tetap mempertahankan karakter unggul
lainnya yang sudah dimiliki oleh tanaman induk.
Mattjik (2005) menyatakan, dalam perbanyakan secara in vitro,
yang terjadi adalah mutasi somatik. Sel yang bermutasi saat
membelah akan membentuk sekumpulan sel yang berbeda dengan sel asalnya. Tanaman
yang berasal dari sel-sel yang bermutasi akan membentuk tanaman yang mungkin
merupakan klon baru yang berbeda dengan
induknya. Beberapa hasil pemanfaatan variasi somaklonal untuk menghasilkan
tanaman unggul baru.
Penerapan bioteknologi
dalam pemuliaan dapat dilaksanakan tanpa meninggalkan cara pemuliaan
konvensional. Penggunaan teknologi in-konvensional dan konvensional dalam
kegiatanpemuliaan akan memepercepat diperolehnya varietas unggul baru,
meningkatkan nilai tambah petani, serta mendorong perkembangan dunia usaha
pertanian. Salah satu penerapan bioteknologi itu yaitu dengan cara variasi
somaklonal yang dapat meningkatkan pengadaptasian variabilitas genetik,
membentuk tanaman yang berguna dari segi agronomi, tanpa proses hibridisasi.
Variasi ini akan sangat berguna dan
bermanfaat.
PENUTUP
1. Kegiatan
pemuliaan memerlukan keragaman genetik luas untuk memperoleh varietas unggul
baru dengan sifat-sifat yang diinginkan. Mutasi induksi dan variasi somaklonal
merupakan terobosan dalam perbaikan sifat tanaman terutama yang sukar
diperbaiki secara konvensional.
2. Variasi
somaklonal adalah keragaman genetik yang dihasilkan melalui kultur jaringan.
3. Penerapan
bioteknologi dalam pemuliaan dapat dilaksanakan tanpa meninggalkan cara pemuliaan
konvensional. Penggunaan teknologi in-konvensional dan konvensional dalam
kegiatanpemuliaan akan memepercepat diperolehnya varietas unggul baru,
meningkatkan nilai tambah petani, serta mendorong perkembangan dunia usaha
pertanian.
4. Variasi somaklonal dapat
dikelompokkan menjadi keragaman yang diwariskan (heritable), yaitu yang
dikendalikan secara genetik, dan keragaman yang tidak diwariskan, yakni yang
dikendalikan secara epigenetik.
No comments:
Post a Comment